JAKARTA, InfoSAWIT – Pemerintah Indonesia mulai mempersiapkan langkah menuju implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). Perjanjian dagang komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa ini diyakini dapat membuka peluang lebih besar bagi produk nasional, termasuk minyak sawit dan produk turunannya, untuk memasuki pasar Eropa.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemerintah tengah mempercepat koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna menuntaskan berbagai persiapan sebelum perjanjian tersebut diberlakukan. Persiapan mencakup penyelesaian dokumen ratifikasi, penyelarasan regulasi domestik, hingga kesiapan teknis implementasi.
Optimisme itu disampaikan Budi Santoso dalam Dialog Persiapan Implementasi I-EU CEPA di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (21/8). Pertemuan tersebut dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga serta duta besar negara-negara anggota Uni Eropa.
BACA JUGA: Musim Mas Raih Mahayuga Award 2026 sebagai Pelopor Industri Hijau
“Saat ini, kami sedang bekerja lintas kementerian untuk menyelesaikan proses penyusunan dokumen hukum serta berbagai aspek teknis lainnya dalam mempersiapkan implementasi I-EU CEPA,” ujar Budi Santoso, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Senin (24/8/2026).
Menurut dia, pemerintah berkomitmen mempersiapkan implementasi perjanjian tersebut secara optimal agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh dunia usaha dan perekonomian nasional.
Sawit Berpeluang Masuk Eropa dengan Tarif Nol Persen
Salah satu poin penting dalam I-EU CEPA adalah terbukanya akses pasar yang lebih luas melalui liberalisasi tarif. Perjanjian ini disebut akan mencakup sekitar 98 persen pos tarif dari kedua pihak atau sekitar 99,5 persen dari total nilai impor.
BACA JUGA: BPDP Gandeng INSTIPER dan AKPY, Siapkan 1.010 Mahasiswa Lewat Beasiswa SDM Perkebunan 2026
Bagi Indonesia, ketentuan tersebut membuka peluang besar bagi sejumlah produk ekspor utama. Minyak sawit dan produk turunannya, bersama tekstil, alas kaki, serta produk karet, termasuk komoditas yang akan memperoleh tarif nol persen sejak perjanjian mulai berlaku.
Budi Santoso menilai tingkat komitmen tarif dalam I-EU CEPA menjadi salah satu yang tertinggi yang pernah diperoleh Indonesia dalam sebuah perjanjian perdagangan.
“Hal ini memberikan peluang yang lebih besar bagi produk Indonesia untuk memasuki pasar Uni Eropa dengan tarif yang lebih kompetitif,” katanya.
BACA JUGA: UGM Temukan Kandidat Marka Genetik untuk Tingkatkan Efisiensi Serapan Fosfor Kelapa Sawit
Di sisi lain, sejumlah produk unggulan Uni Eropa juga akan mendapatkan fasilitas tarif nol persen ketika masuk ke Indonesia, di antaranya bubur kayu, pesawat udara dan komponennya, kereta api dan komponennya, serta pupuk.
Pasar 450 Juta Konsumen
I-EU CEPA menjadi salah satu perjanjian perdagangan paling komprehensif yang pernah dirundingkan Indonesia. Bagi pelaku usaha nasional, perjanjian ini membuka akses ke pasar Uni Eropa yang mencakup sekitar 450 juta konsumen dengan nilai produk domestik bruto gabungan sekitar USD 22 triliun.
Peluang yang dibuka pun tidak hanya terbatas pada perdagangan barang. Perjanjian tersebut juga mencakup akses pasar jasa, investasi, digitalisasi perdagangan, percepatan prosedur kepabeanan, kerja sama standardisasi, hingga isu sanitari dan fitosanitari.
Selain itu, I-EU CEPA juga diarahkan untuk menciptakan kepastian usaha yang lebih baik serta memperkuat kerja sama dan peningkatan kapasitas di berbagai sektor.
Mendag menekankan pentingnya keterlibatan asosiasi dan pelaku usaha sejak tahap persiapan. Menurutnya, komunikasi antara pemerintah, dunia usaha Indonesia, dan mitra bisnis di Uni Eropa menjadi kunci agar peluang yang tersedia tidak berhenti sebatas kesepakatan di atas kertas.
“Kami terus berkolaborasi dengan asosiasi serta mendorong komunikasi antara perusahaan Indonesia dan Uni Eropa. Hal ini akan menjadi sangat penting ketika perjanjian sudah diimplementasikan,” ujarnya.
