Kenaikan stok terjadi seiring produksi minyak sawit Malaysia yang meningkat 9,4 persen menjadi 1,79 juta ton dibandingkan Juni. Ekspor juga tumbuh 14,5 persen menjadi 1,39 juta ton.
Namun, tingginya persediaan belum cukup untuk melemahkan harga CPO secara signifikan. Permintaan global dinilai masih cukup kuat, sementara minyak sawit semakin kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya.
India, sebagai importir minyak nabati terbesar dunia, meningkatkan pembelian minyak sawit secara tajam pada Juli. Impor minyak sawit negara tersebut melonjak 50 persen secara bulanan menjadi sekitar 733.000 ton, sekaligus menjadi level tertinggi dalam lima bulan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Masih Withdraw pada Kamis (27/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Peningkatan pembelian tersebut terjadi ketika para penyuling minyak mulai menambah persediaan menjelang musim festival di India yang berlangsung dari Agustus hingga November.
B50 Indonesia Berpotensi Menekan Pasokan Ekspor
Faktor lain yang menjadi perhatian pasar adalah penerapan mandatori B50 di Indonesia sejak 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut meningkatkan kandungan biodiesel berbasis sawit dalam solar menjadi 50 persen, dari sebelumnya 40 persen.
Program B50 dinilai berpotensi meningkatkan konsumsi domestik minyak sawit Indonesia dan mengurangi volume yang tersedia untuk pasar ekspor.
BACA JUGA: Ekspor Sawit Indonesia Juni 2026 Melonjak 64,08%, Nilainya Capai US$3,92 Miliar
Menurut proyeksi yang dikutip dalam laporan tersebut, implementasi B50 secara nasional dapat menyerap sekitar 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter biodiesel sawit setiap tahun.
Namun, tingginya persediaan minyak sawit Malaysia serta posisi harga CPO yang masih memiliki premi terhadap minyak nabati pesaing dinilai dapat membatasi kenaikan harga dalam jangka pendek.
Di tengah perkembangan tersebut, Departemen Pertanian Amerika Serikat atau USDA juga telah memangkas proyeksi produksi minyak sawit Indonesia untuk musim 2026/2027 menjadi 47,2 juta ton, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi kekeringan.
BACA JUGA: Ketika BGA Memilih Membangun Manusia, Bukan Sekadar Fasilitas
Gangguan Panen dan Konflik Laut Hitam Jadi Sentimen Tambahan
Pasar juga mencermati gangguan panen di sejumlah wilayah Indonesia akibat kenaikan harga solar dan kelangkaan bahan bakar. Kondisi tersebut dilaporkan menyebabkan sebagian pekebun kecil di Kalimantan dan Sumatra mengurangi aktivitas panen dan pengumpulan buah.
Meski dampaknya diperkirakan masih bersifat lokal, gangguan tersebut tetap menjadi salah satu faktor yang dipantau pasar.
Selain itu, konflik geopolitik di kawasan Laut Hitam turut memberikan sentimen positif bagi harga minyak nabati. Rusia dan Ukraina merupakan pemasok utama minyak bunga matahari dunia, sehingga gangguan terhadap pelabuhan, infrastruktur, dan jalur ekspor berpotensi mengurangi pasokan minyak bunga matahari di pasar global.
Penurunan ekspor minyak bunga matahari dapat mendorong negara-negara pengimpor beralih ke minyak sawit dan minyak kedelai sebagai alternatif, terutama menjelang meningkatnya kebutuhan konsumsi selama musim festival di India.
Dengan berbagai faktor tersebut, prospek harga CPO memasuki 2027 dipandang masih cukup kuat. Meski persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan tetap tinggi selama periode puncak produksi, pasar mulai mengalihkan perhatian pada risiko penurunan produksi akibat El Niño dan meningkatnya penyerapan domestik minyak sawit Indonesia melalui program B50.
Sejumlah lembaga riset pun tetap mempertahankan pandangan positif terhadap sektor perkebunan, khususnya bagi produsen hulu yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kenaikan harga CPO. (T2)
