InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Musim monsun yang diperkirakan berlangsung pada Desember mendatang berpeluang membantu meredam dampak fenomena Super El Niño terhadap produksi minyak sawit Malaysia. Meski demikian, curah hujan dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar tekanan cuaca kering terhadap produksi sawit pada 2027.
Dilansir InfoSAWIT dari Bernama, Jumat (28/8/2026), Chief Executive Officer Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Belvinder Sron, mengatakan dampak El Niño terhadap produksi minyak sawit umumnya baru terasa setelah jeda waktu sekitar sembilan hingga 12 bulan.
Ia mengingatkan, Super El Niño sebelumnya terjadi pada 2015 dan berdampak pada penurunan produksi minyak sawit Malaysia pada tahun berikutnya sebesar 13 persen atau sekitar 2,6 juta ton.
BACA JUGA: Ketika BGA Memilih Membangun Manusia, Bukan Sekadar Fasilitas
Menurut Belvinder, kondisi cuaca kering pada 2026 berkembang lebih lambat dibandingkan situasi pada 2015. Karena itu, pola curah hujan selama September hingga November akan menjadi penentu penting dalam mengukur tingkat kekeringan dan potensi dampaknya terhadap produksi minyak sawit Malaysia pada 2027.
Dampak El Niño di kawasan Asia Tenggara sendiri, kata dia, berlangsung tidak merata. Di Indonesia, kondisi cuaca mulai berubah lebih kering sejak akhir Juni, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sementara Malaysia belum mengalami kondisi kekeringan yang dinilai kritis, meski suhu udara terus menunjukkan peningkatan.
Dalam jangka pendek, cuaca yang lebih kering bahkan dapat memberikan keuntungan bagi aktivitas perkebunan. Akses ke areal kebun menjadi lebih mudah, proses panen lebih efisien, serta pengangkutan Tandan Buah Segar (TBS) ke pabrik dapat berlangsung dengan gangguan yang lebih minim dibandingkan saat hujan dan banjir.
Namun, risiko yang lebih besar muncul apabila kondisi kering berlangsung lebih dari tiga bulan berturut-turut.
Curah hujan yang rendah, suhu tinggi, dan menurunnya kelembapan tanah dapat menekan kondisi fisiologis tanaman kelapa sawit. Dampaknya kemudian dapat terlihat dalam bentuk penurunan produksi TBS dan rendemen minyak setelah jeda waktu sekitar sembilan hingga 12 bulan.
“Jika ketersediaan TBS menurun sementara permintaan tetap stabil, persediaan minyak sawit berpotensi menyusut dan pasokan pasar menjadi lebih ketat,” kata Belvinder.
BACA JUGA: Ekspor Sawit Indonesia Juni 2026 Melonjak 64,08%, Nilainya Capai US$3,92 Miliar
Harga CPO Diproyeksikan Tetap Menguat
Selain mencermati risiko produksi, pasar juga mulai memperhitungkan potensi dampak El Niño terhadap harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO).
Belvinder mengatakan kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives telah bergerak di atas RM4.900 per ton pada pertengahan Agustus. Sementara kontrak untuk pengiriman pada 2027 telah diperdagangkan di atas RM5.000 per ton, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan gangguan produksi akibat El Niño.
Meski begitu, penguatan harga CPO saat ini tidak semata-mata dipicu oleh ancaman cuaca.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 26 Agustus–2 September 2026 Naik, Usia 10–20 Tahun Rp4.073,80 per Kg
Ketegangan geopolitik juga ikut menopang pasar minyak nabati secara keseluruhan. Gangguan pelayaran di Laut Merah dan berkurangnya lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz disebut turut menjaga harga minyak mentah tetap tinggi di atas US$80 per barel.
Kondisi tersebut muncul menjelang periode pengisian kembali stok untuk kebutuhan perayaan Diwali di India, sehingga memberikan tambahan dukungan terhadap pasar minyak nabati, termasuk minyak sawit.
Faktor lain yang juga menjadi perhatian adalah meningkatnya kebutuhan domestik minyak sawit Indonesia untuk program campuran biodiesel B50. Belvinder menilai permintaan dapat semakin menguat setelah masa transisi tiga bulan untuk menghabiskan stok biodiesel B40 berakhir pada September.
