InfoSAWIT, JAKARTA – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) memperkuat langkah transformasinya di sektor energi terbarukan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PT Pertamina Power Indonesia (PPI). Kolaborasi antar-BUMN tersebut difokuskan untuk mengembangkan proyek bioenergi nasional, mulai dari reaktivasi pabrik biodiesel hingga pembangunan fasilitas bioetanol berbasis singkong.
Kerja sama yang diteken pada Rabu (1/7/2026) itu menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan Bidang Pertanian dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional dan Kemandirian Bangsa.
Nota kesepahaman ditandatangani Direktur Bisnis PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Nurhidayat, bersama Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Power Indonesia, Harsono Budi Santoso. Penandatanganan tersebut menandai dimulainya penjajakan berbagai peluang kerja sama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan yang berbasis sumber daya domestik.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Juli 2026 Turun Jadi US$ 1.000,90/MT, Bea Keluar Dipatok US$ 148 per Ton
Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Muhammad Abdul Ghani, mengatakan sinergi tersebut merupakan langkah strategis perusahaan dalam mengoptimalkan potensi bioenergi Indonesia sekaligus mendukung penugasan pemerintah di sektor pangan dan energi.
“Kerja sama ini menjadi langkah strategis Agrinas Palma Nusantara dalam mengoptimalkan potensi bioenergi nasional. Fokus pada reaktivasi pabrik biodiesel serta pengembangan bioetanol berbahan baku singkong diharapkan mampu menciptakan nilai tambah bagi komoditas pertanian, memperkuat ketahanan energi, dan mendukung pelaksanaan program swasembada pangan yang menjadi prioritas pemerintah,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (2/7/2026).
Menurut Abdul Ghani, kolaborasi antar-BUMN diyakini mampu mempercepat terbentuknya ekosistem bioenergi nasional yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
BACA JUGA: GAPKI: Pengawasan Ekspor Sawit Sudah Berlapis, Penegakan Hukum Perlu Lebih Konsisten
Dalam implementasinya, kedua perusahaan akan memprioritaskan pengembangan sejumlah proyek strategis, antara lain reaktivasi pabrik biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan pembangunan dua unit pabrik bioetanol berbahan baku singkong.
Reaktivasi fasilitas biodiesel ditargetkan mampu mengembalikan kapasitas produksi hingga 600 ribu ton per tahun, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pasokan biodiesel nasional sekaligus memperkuat bauran energi berbasis bahan bakar nabati.
Sementara itu, pembangunan dua pabrik bioetanol masing-masing berkapasitas 300 kiloliter per hari (KLPD) atau total 600 KLPD diproyeksikan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas singkong, memperkuat ketersediaan bioetanol nasional, serta mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
BACA JUGA: Topaz DxP, Benih Sawit yang Sudah ‘Dibuktikan Pasar’
Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut, Agrinas Palma Nusantara dan PT Pertamina Power Indonesia akan melaksanakan serangkaian studi kelayakan untuk mengidentifikasi proyek-proyek yang memiliki prospek pengembangan.
Kajian tersebut mencakup aspek teknis, pasar, ekonomi, bisnis, lingkungan, hukum, hingga manajemen risiko guna memastikan setiap proyek dapat diimplementasikan secara optimal dan memberikan manfaat jangka panjang.
Selain itu, kedua perusahaan juga akan memperkuat kolaborasi melalui pertukaran pengetahuan, pengalaman, serta teknologi di bidang energi terbarukan. Pemanfaatan fasilitas, peralatan, maupun material secara bersama juga akan menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas pelaksanaan proyek.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 1-7 Juli 2026 Naik Rp73,76 per Kg
Melalui kemitraan ini, Agrinas Palma Nusantara menegaskan komitmennya untuk memperluas pengembangan bioenergi berbasis sumber daya dalam negeri. Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya mempercepat pembangunan ekosistem energi terbarukan nasional, tetapi juga meningkatkan nilai tambah sektor agroindustri, memperkuat ketahanan energi, serta mendukung keberhasilan program swasembada pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintah. (T2)
