Diplomasi Dinilai Lebih Cepat Buka Selat Hormuz di Tengah Konflik

oleh -1.920 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/Ilustrasi Selat Hormuz.

InfoSAWIT, JAKARTA – Upaya diplomasi dinilai menjadi jalan tercepat untuk memulihkan arus pelayaran di Selat Hormuz, di tengah ketegangan konflik yang masih membayangi jalur perdagangan energi global tersebut.

Selat sempit yang berada di sepanjang pesisir Iran itu sebelumnya menjadi jalur bagi sekitar 20% perdagangan minyak mentah dan LNG dunia. Namun sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mengalami penurunan drastis.

Saat ini, lalu lintas kapal hanya didominasi oleh kapal “shadow fleet” yang mengangkut kargo Iran, serta sejumlah kecil kapal dari negara-negara yang tidak berpihak dalam konflik.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Kamis (26/3), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat

 

Akses Selektif Lewat Jalur Diplomasi

Iran menyatakan kesediaannya memberikan akses aman bagi negara-negara yang tidak bersekutu dengan Amerika Serikat dan Israel. Pendekatan ini membuka peluang bagi beberapa negara seperti India, China, dan Pakistan untuk tetap melintasi selat tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pembatasan hanya berlaku bagi negara musuh. “Selat hanya ditutup bagi tanker dan kapal milik musuh Iran serta sekutunya. Yang lain bebas melintas,” ujarnya, dilansir InfoSAWIT dari Reuters, Jumat (27/3/2026).

Tercatat, dua kapal tanker LPG berbendera India berhasil melintas pada 13 Maret, bersama tiga kapal gas besar yang membawa LPG Iran menuju China. Selain itu, kapal tanker tujuan Pakistan juga dilaporkan tetap melintas tanpa gangguan, termasuk pada 15 Maret.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II-Maret 2026 Naik Rp. 206,76 per  Kg

Pemerintah India bahkan tengah melakukan negosiasi dengan Iran untuk memastikan jalur aman bagi enam kapal LPG tambahan, yang berpotensi diikuti oleh pengiriman minyak mentah.

Kepala keamanan maritim asosiasi pelayaran BIMCO, Jakob Larson, menilai diplomasi menjadi pendekatan yang lebih efektif. “Mengurangi motivasi Iran untuk menyerang bisa lebih mudah dicapai, setidaknya terhadap kapal dagang tertentu. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur diplomatik,” jelasnya.

 

Opsi Militer Dinilai Berisiko Tinggi

Di sisi lain, wacana penggunaan kekuatan militer untuk membuka kembali jalur pelayaran masih menghadapi banyak tantangan.

BACA JUGA: Importir India Tahan Pembelian, Harga Minyak Sawit Global Berpotensi Tertahan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya meminta negara sekutu untuk mengerahkan kapal militer sebagai pengawal. Namun, respons yang diberikan masih terbatas.

Beberapa negara seperti Inggris, Prancis, Italia, Jepang, Kanada, Jerman, dan Belanda menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya pengamanan, namun belum ada komitmen konkret terkait operasi militer langsung.

Trump bahkan mengkritik sikap tersebut dan menyebut pembukaan selat sebagai “operasi militer sederhana”.

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News dan Group Whatsapp di InfoSAWIT News Update

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com