Namun, analis pelayaran dan militer justru menilai sebaliknya. Direktur riset Center for Naval Analyses, Joshua Tallis, menyebut operasi tersebut sangat kompleks dan berisiko tinggi.
“Pengamanan selat sempit di tengah konflik aktif dengan ancaman rudal, drone, dan ranjau merupakan operasi yang sangat kompleks dan berisiko,” ujarnya.
Larson menambahkan bahwa operasi militer akan membutuhkan pengamanan lebih dari 500 kilometer garis pantai untuk mengidentifikasi dan menetralisir ancaman, yang tentu membutuhkan sumber daya besar.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 25 – 31 Maret 2026 Turun Rp77,67 per Kg
Kondisi Pelayaran Masih Rentan
Saat ini, kapal yang melintas cenderung bergerak dekat garis pantai Iran, khususnya di antara Pulau Larak dan Hormuz, yang diduga telah mendapatkan persetujuan tidak langsung dari pihak Iran.
Meski belum ada konfirmasi penempatan ranjau laut, potensi tersebut tetap menjadi ancaman serius. Jika ranjau ditempatkan di bagian selatan selat, jalur pelayaran bisa semakin sempit dan berubah menjadi titik kontrol ketat oleh Iran.
Kondisi ini menegaskan bahwa stabilitas Selat Hormuz sangat bergantung pada keberhasilan diplomasi, mengingat setiap gangguan kecil saja dapat berdampak besar terhadap perdagangan energi global. (T2)
