InfoSAWIT, JAKARTA – Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) mengingatkan petani sawit swadaya untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan datang lebih awal dan lebih kering.
Dilansir InfoSAWIT dari FORTASBI, pada Selasa (21 April 2026), analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa kondisi kemarau tahun ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan, terutama pada semester kedua.
Ketua FORTASBI, Sutiyana, menegaskan pentingnya langkah mitigasi sejak dini guna mencegah terjadinya kebakaran di area perkebunan sawit swadaya. “Dengan melakukan mitigasi, kita bisa mencegah kebakaran yang berdampak pada citra perkebunan kelapa sawit swadaya,” ujarnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 17-23 April 2026 Turun Rp87,23 per Kg
Menurutnya, penerapan prinsip dan kriteria dalam sertifikasi sawit berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menekan potensi kebakaran. Petani yang disiplin dalam menerapkan praktik budidaya yang baik diyakini mampu menghindari penggunaan metode pembakaran lahan.
“Kuncinya adalah disiplin dalam pemantauan lahan serta menerapkan Good Agricultural Practices secara nyata dan berkesinambungan,” jelasnya.
Ia juga menilai, sebagian besar petani sawit swadaya yang tergabung dalam FORTASBI telah memiliki pengalaman dalam menghadapi musim kemarau panjang, termasuk dalam melakukan langkah-langkah pencegahan kebakaran. Namun demikian, penguatan sistem pengawasan internal tetap harus dilakukan secara konsisten.
BACA JUGA: Harga MINYAKITA Turun 5,45 Persen, Kemendag Nilai Kebijakan DMO 35 Persen Efektif Jaga Pasokan
“Mudah-mudahan dengan internal control tidak ada kebakaran di lahan sawit swadaya milik petani,” tambahnya.
FORTASBI berharap, dengan kesiapsiagaan dan penerapan praktik berkelanjutan, petani sawit swadaya dapat menjaga produktivitas sekaligus melindungi lingkungan dari ancaman kebakaran di tengah kondisi iklim yang semakin menantang. (T2)
