InfoSAWIT, SEKADAU – Upaya memperkuat posisi petani sawit dalam rantai nilai industri terus didorong melalui program hilirisasi berbasis koperasi di Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Langkah ini dinilai menjadi strategi kunci agar petani tidak hanya bergantung pada penjualan tandan buah segar (TBS), tetapi juga mampu menghasilkan produk turunan bernilai tambah.
Pada Workshop Akselerasi Hilirisasi Sawit Rakyat dan Pengembangan Produk UMKM Turunan Sawit, Jumat (16 April 2026), Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) mendorong penguatan kapasitas petani dan koperasi dalam mengembangkan usaha hilirisasi.
Kegiatan yang diikuti lebih dari 100 peserta tersebut melibatkan petani swadaya, pengurus koperasi, pemerintah daerah, serta pelaku UMKM. Fokus utamanya adalah membuka peluang usaha baru berbasis produk turunan sawit yang dapat meningkatkan pendapatan petani.
BACA JUGA: Harga MINYAKITA Turun 5,45 Persen, Kemendag Nilai Kebijakan DMO 35 Persen Efektif Jaga Pasokan
Bupati Sekadau, Aron, menegaskan bahwa pemerintah daerah mendukung penuh transformasi ekonomi petani sawit melalui hilirisasi. Menurutnya, pengolahan sawit menjadi produk turunan akan memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan hanya menjual TBS.
“Jika petani mampu mengolah sawit menjadi berbagai produk turunan, maka nilai ekonomi yang diterima masyarakat akan meningkat signifikan,” ujarnya dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Senin (20/4/2026).
Ia juga menambahkan bahwa sektor sawit selama ini telah berkontribusi besar terhadap pembangunan daerah. Pemerintah Kabupaten Sekadau bahkan telah menyalurkan sekitar 236 ribu bibit sawit unggul untuk mendukung peningkatan produktivitas di lahan seluas kurang lebih 1.800 hektare.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 17-23 April 2026 Turun Rp87,23 per Kg
Sementara itu, Ketua SPKS Sekadau, Bernadus Mohtar, menilai bahwa momentum harga TBS yang relatif baik saat ini harus dimanfaatkan untuk mulai mengembangkan strategi hilirisasi.
“Selama ini petani fokus menjual TBS, padahal potensi produk turunan sawit sangat besar dan bisa dikelola melalui koperasi,” jelasnya.
Menurut Bernadus, koperasi memiliki peran strategis sebagai pusat aktivitas ekonomi petani, tidak hanya sebagai tempat pemasaran hasil panen, tetapi juga sebagai penggerak usaha pengolahan produk turunan.
Ketua Umum SPKS, Sabarudin, menambahkan bahwa potensi hilirisasi sawit sangat luas dengan berbagai peluang usaha yang dapat dikembangkan di tingkat petani.
“Saat ini ada sekitar 100 produk turunan sawit yang bisa dikembangkan, mulai dari minyak goreng kemasan, sabun, lilin, hingga produk pangan dan kerajinan berbasis limbah sawit,” ungkapnya.
Ia menegaskan, melalui penguatan koperasi, petani dapat bertransformasi dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pelaku usaha yang mampu mengolah dan memasarkan produk.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Dorong Hilirisasi Sawit Rakyat Berbasis Koperasi
“Ini adalah langkah penting agar petani sawit bisa naik kelas, memperoleh nilai tambah lebih besar, dan memperkuat posisi dalam rantai industri sawit,” tambahnya.
Ke depan, SPKS menargetkan sejumlah koperasi di Sekadau mulai mengembangkan produk UMKM berbasis sawit sebagai bagian dari strategi hilirisasi.
Program ini diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru di pedesaan, memperluas manfaat komoditas sawit, serta meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat secara berkelanjutan. (T2)
