InfoSAWIT, JAKARTA – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi kelapa sawit rakyat berbasis koperasi sebagai strategi utama untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan negara hasil penertiban kawasan hutan.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Mohammad Abdul Ghani, dalam forum Focus Group Discussion (FGD) bertema “Strategi Pengembangan Hilirisasi Kelapa Sawit Rakyat: Sinergi Koperasi, Pelaku Usaha, dan Keuangan Negara” yang digelar di Jakarta.
Dalam paparannya, Abdul Ghani menegaskan bahwa momentum kebijakan pemerintah, khususnya terkait penertiban kawasan hutan, harus diikuti langkah konkret guna menghadirkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
BACA JUGA: Pakar Ingatkan, Tumpang Sari Sawit dengan Karet Bisa Turunkan Produktivitas
“Lahan-lahan yang telah kembali ke negara harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Salah satunya melalui hilirisasi sawit berbasis koperasi agar petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga pelaku utama dalam rantai nilai industri,” ujarnya, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, pada Senin (20 April 2026).
Potensi Besar Sawit Rakyat
Berdasarkan data yang dipaparkan, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai sekitar 16–17 juta hektare, dengan sekitar 41 persen dikelola oleh petani rakyat. Namun, kontribusi petani terhadap nilai tambah industri masih tergolong terbatas.
Sektor sawit sendiri diketahui menyerap sekitar 11 juta tenaga kerja dan menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia. Meski demikian, ketimpangan penguasaan lahan serta praktik ilegal masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara sistemik.
BACA JUGA: Pusat Aksi Hak Anak Diluncurkan untuk Atasi Pekerja Anak di Rantai Pasok Sawit
Abdul Ghani menekankan bahwa hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
“Selama ini kita kuat di produksi, tetapi belum optimal dalam pengendalian harga dan nilai tambah. Hilirisasi berbasis koperasi adalah jalan untuk memperbaiki struktur tersebut,” katanya.
Dalam konsep yang diusung Agrinas Palma Nusantara, koperasi ditempatkan sebagai aktor utama dalam pengelolaan sawit rakyat. Melalui skema ini, petani didorong untuk terorganisasi dalam kelembagaan koperasi yang mampu mengelola produksi hingga tahap pengolahan awal seperti crude palm oil (CPO).
Model tersebut juga membuka peluang pembiayaan investasi untuk pembangunan fasilitas pengolahan, sehingga petani dapat memperoleh margin yang lebih besar dari hasil produksinya.
“Jika petani terhimpun dalam koperasi yang kuat, mereka bisa menjual secara kolektif, mendapatkan harga lebih baik, dan bahkan masuk ke tahap pengolahan. Ini akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan,” jelasnya.
Sinergi Lintas Sektor
FGD ini merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya terkait model bisnis hilirisasi sawit rakyat, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari kementerian, lembaga negara, BUMN, pelaku usaha, hingga organisasi petani.
BACA JUGA: Badan Sawit Dinilai Jadi Game Changer Tata Kelola Sawit Nasional, Dorong Integrasi Hulu-Hilir
Diskusi menyoroti pentingnya sinergi dalam aspek tata kelola, pembiayaan, serta regulasi. Pemerintah juga telah memasukkan hilirisasi sebagai prioritas strategis dalam perencanaan pembangunan nasional, termasuk pengembangan proyek strategis berbasis sawit rakyat.
Selain itu, forum menekankan pentingnya perbaikan tata kelola koperasi, penguatan kemitraan dengan korporasi, serta dukungan riset dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan industri sawit.
Agrinas Palma Nusantara optimistis bahwa kolaborasi antara pemerintah, koperasi, dan pelaku usaha akan mendorong transformasi industri sawit nasional menjadi lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Kami percaya hilirisasi berbasis koperasi bukan hanya strategi ekonomi, tetapi juga jalan untuk menghadirkan keadilan bagi petani sawit rakyat serta memperkuat kedaulatan ekonomi nasional,” tutup Abdul Ghani. (T2)
