InfoSAWIT, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pemanfaatan teknologi dry process dalam pengembangan industri minyak sawit karena dinilai lebih efisien serta memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan teknologi wet process.
Hal itu disampaikan Direktur Industri Kemurgi, Minyak Sawit dan Pakan Kementerian Perindustrian, Krisna Septiningrum, pada acara Press Conference 4th TPOMI 2026 yang dihadiri InfoSAWIT, Selasa (2/6/2026).
Menurut Krisna, perkembangan teknologi pengolahan saat ini memungkinkan kandungan alami dalam bahan baku tetap dipertahankan, termasuk vitamin yang memiliki nilai tambah tinggi pada produk minyak sawit.
BACA JUGA: Sawit di Tengah Bara Konflik Global
“Dengan teknologi yang ada, kandungan vitamin alami seperti vitamin A dan E masih dapat dipertahankan sehingga memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan,” ujar Krisna.
Ia menjelaskan, pemilihan teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri minyak sawit nasional. Selain mempertimbangkan kualitas produk, industri juga perlu memperhatikan efisiensi proses dan karakteristik produk akhir yang diinginkan.
Krisna menilai, penggunaan teknologi yang lebih modern harus diawali dengan identifikasi kebutuhan industri dan evaluasi terhadap proses yang berjalan saat ini agar implementasinya dapat memberikan manfaat optimal.
BACA JUGA: Sawit di Tengah Bara Konflik Global
Lebih lanjut, ia membandingkan teknologi wet process dan dry process dalam pengolahan industri minyak sawit. Menurutnya, dry process menawarkan keunggulan dari sisi efisiensi sekaligus aspek keberlanjutan lingkungan.
“Dibandingkan wet process, teknologi dry process lebih efisien dan mampu menurunkan emisi hingga 75 persen karena tidak menghasilkan limbah cair,” jelasnya.
Keunggulan tersebut dinilai menjadi peluang bagi industri minyak sawit nasional untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memenuhi tuntutan standar internasional yang semakin memperhatikan aspek rendah emisi dan ramah lingkungan. Teknologi ini diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp 13 miliar dengan kapsitas 2 ton TBS/jam, sebagai catatan teknologi ini masih dalam pilot project.
BACA JUGA: Disbun Muba Minta PKS Tetap Serap TBS Sawit Petani, Stabilitas Harga TBS Jadi Perhatian
Krisna menambahkan, pengembangan teknologi pengolahan ke depan perlu terus diarahkan pada inovasi yang tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga mampu memperkuat daya saing industri minyak sawit Indonesia di pasar global. (T2)
