InfoSAWIT, JAKARTA – Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan industri kelapa sawit nasional akan memasuki fase baru pada kuartal III 2026, di mana pasar domestik diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan arah industri sawit Indonesia sekaligus memengaruhi dinamika pasar global.
Dalam laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q3 (Juli–September) 2026 bertajuk “Memperkokoh Domestik sebagai Penentu Arah Sawit Global”, IPOSS menilai implementasi mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku sejak 1 Juli 2026 menjadi katalis utama meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk sektor energi dalam negeri.
Menurut proyeksi IPOSS, neraca minyak sawit nasional pada kuartal III akan semakin ketat. Produksi crude palm oil (CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO) selama Juli hingga September 2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 11,1 juta ton, atau turun sekitar 3 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BACA JUGA: DPR Nilai Program B50 Perkuat Ketahanan Energi, Usulan Koperasi Petani Produksi FAME Akan Dikaji
Penurunan produksi diperkirakan terjadi terutama pada Juli dan September, seiring meningkatnya pengaruh kondisi kering akibat fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang berpotensi menekan produktivitas perkebunan sawit.
Di sisi lain, konsumsi domestik justru diperkirakan terus meningkat. IPOSS memperkirakan kebutuhan minyak sawit dalam negeri mencapai sekitar 7,2 juta ton pada kuartal III 2026, atau tumbuh 12,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (16/7/2026), peningkatan tersebut sebagian besar berasal dari sektor biodiesel. Program mandatori B50 diproyeksikan menyerap sekitar 4,25 juta ton CPO, setara hampir 60 persen dari total konsumsi domestik selama periode tersebut. Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya pengaruh kebijakan energi terhadap keseimbangan pasar minyak sawit nasional.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Selasa (14/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Menguat
Dengan produksi yang melemah dan konsumsi domestik yang terus meningkat, ruang pasok untuk pasar ekspor diperkirakan semakin terbatas. IPOSS memperkirakan ekspor produk sawit Indonesia selama kuartal III 2026 hanya mencapai sekitar 4,3 juta ton, turun tajam dibandingkan sekitar 8,3 juta ton pada periode yang sama tahun 2025.
Laporan tersebut menilai penurunan ekspor bukan semata-mata disebabkan melemahnya permintaan internasional, melainkan karena sebagian besar pasokan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik, terutama sektor biodiesel. Dalam kondisi tersebut, ekspor berfungsi sebagai variabel penyeimbang agar kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi dan stok nasional tetap terjaga.
Sementara itu, stok minyak sawit nasional diperkirakan menyusut menjadi sekitar 1,1 juta ton pada akhir September 2026. Rendahnya stok dinilai membuat pasar semakin sensitif terhadap perubahan produksi maupun konsumsi, sehingga berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan minyak nabati global.
Dari sisi harga, IPOSS memperkirakan harga CPO global masih berpotensi menguat hingga akhir kuartal III seiring terbatasnya pasokan ekspor Indonesia, rendahnya stok, serta meningkatnya serapan domestik akibat implementasi B50.
Namun, tren harga di pasar domestik diperkirakan berbeda. Setelah menguat pada awal kuartal III, harga CPO dalam negeri diproyeksikan mengalami tekanan menjelang September akibat kenaikan tarif Bea Keluar (BK). Struktur BK yang bersifat bertingkat membuat kenaikan harga referensi dapat mendorong peningkatan pungutan ekspor, sehingga menekan harga bersih yang diterima eksportir dan mendorong sebagian pasokan tetap berada di pasar domestik.
Selain menyajikan proyeksi produksi, konsumsi, ekspor, stok, dan harga, Outlook Industri Sawit Indonesia Q3 2026 juga mengulas sejumlah isu strategis lainnya, seperti evaluasi kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) minyak goreng, peningkatan produktivitas perkebunan rakyat, rencana pembentukan BUMN ekspor, kesiapan menghadapi regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR), keberlanjutan pembiayaan program biodiesel melalui BPDP, hingga pentingnya integrasi data rantai pasok sawit nasional.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 15-21 Juli 2026 Naik Rp36,71 per Kg
IPOSS menilai berbagai isu tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan mengingat kuartal III 2026 akan menjadi periode krusial bagi industri sawit nasional dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pangan, energi, ekspor, stok, produktivitas, dan aspek keberlanjutan di tengah meningkatnya peran pasar domestik sebagai penentu arah industri sawit Indonesia. (T2)
