InfoSAWIT, MOSKOW – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkuat upaya diversifikasi pasar ekspor minyak sawit dengan menjalin kemitraan strategis bersama The Fat and Oil Union of Russia serta Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union (EAEU). Kerja sama yang dituangkan dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Moskow pada 10 Juli 2026 itu diharapkan menjadi pintu masuk bagi perluasan perdagangan, investasi, dan pengembangan industri minyak nabati antara Indonesia dan kawasan Eurasia.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, mengatakan kesepakatan tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan jangka panjang antara pelaku industri minyak nabati kedua negara. Menurutnya, sinergi yang lebih erat akan membuka peluang baru bagi perdagangan bilateral sekaligus meningkatkan daya saing industri minyak nabati Indonesia di pasar internasional.
“Nota Kesepahaman ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemitraan jangka panjang antara industri minyak nabati Indonesia dan Rusia. Kami meyakini kolaborasi yang lebih erat akan membuka peluang perdagangan, investasi, dan inovasi yang lebih besar, sekaligus memperluas akses pasar serta memperkuat daya saing industri minyak nabati kedua negara,” ujar Eddy Martono, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (14/7/2206).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Senin (13/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Prosesi penandatanganan turut disaksikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares, Atase Perdagangan KBRI Moskow, jajaran pejabat KBRI Moskow, serta perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Melalui MoU tersebut, kedua asosiasi sepakat meningkatkan kerja sama perdagangan yang saling menguntungkan melalui pertukaran informasi industri, promosi bersama, pengembangan jejaring bisnis, hingga perluasan akses pasar bagi minyak sawit beserta produk turunannya di Indonesia, Rusia, dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU).
Kesepakatan ini juga menjadi tindak lanjut atas semakin eratnya hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Eurasia. Sebelumnya, pada 21 Desember 2025, Indonesia bersama lima negara anggota EAEU—Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan—menandatangani Free Trade Agreement (FTA) di St. Petersburg, Rusia.
BACA JUGA: POPSI Dukung Kortas Tipikor Polri Usut Dugaan Korupsi, Soroti Tata Kelola Sektor Sawit
Melalui perjanjian tersebut, lebih dari 90 persen kategori produk asal Indonesia akan memperoleh penghapusan maupun penurunan tarif impor di kawasan EAEU. Kebijakan ini dipandang membuka peluang yang lebih besar bagi ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar Eurasia yang memiliki populasi sekitar 180 juta jiwa.
Dalam implementasinya, MoU antara GAPKI dan The Fat and Oil Union of Russia mencakup berbagai bentuk kolaborasi strategis, mulai dari fasilitasi dialog industri, pembentukan kelompok kerja bersama, pertukaran informasi mengenai perkembangan industri minyak nabati, hingga penyelenggaraan seminar, promosi investasi, dan pengembangan teknologi.
Selain memperkuat hubungan antarasosiasi, kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mendorong advokasi kebijakan, memperluas jaringan bisnis, dan meningkatkan perdagangan bilateral di sektor minyak nabati.
Rusia Makin Penting sebagai Pasar Alternatif Sawit Indonesia
Rusia menjadi salah satu pasar yang terus menunjukkan prospek positif bagi ekspor minyak sawit Indonesia. Di tengah meningkatnya hambatan perdagangan dan penerapan kebijakan keberlanjutan di Uni Eropa, seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), pasar Rusia dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung diversifikasi ekspor nasional.
Data GAPKI menunjukkan, ekspor produk sawit Indonesia ke Rusia pada 2025 mencapai 792 ribu ton dengan nilai US$919 juta, meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 680 ribu ton senilai US$681 juta.
Komoditas yang paling banyak diekspor meliputi Refined Palm Oil (RBD Palm Oil) sebanyak 689 ribu ton senilai US$726 juta, Refined Palm Kernel Oil (RBD PKO) sebesar 81 ribu ton senilai US$159 juta, serta produk oleokimia sebanyak 23 ribu ton dengan nilai US$34 juta.
