InfoSAWIT, PALU – Sebanyak 155 pekebun kelapa sawit asal Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit yang diselenggarakan di Hotel Aston Palu pada 6–11 Juli 2026. Program peningkatan kapasitas tersebut merupakan bagian dari Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 yang didukung Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Pelatihan yang dilaksanakan oleh PT Citra Widya Education (CWE) itu terbagi dalam lima angkatan dan diikuti 128 peserta laki-laki serta 27 peserta perempuan yang berasal dari berbagai desa di Kabupaten Morowali Utara.
Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi pekebun dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) sehingga mampu meningkatkan produktivitas, kualitas hasil panen, dan keberlanjutan pengelolaan perkebunan kelapa sawit rakyat.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau 15-21 Juli 2026 Naik Rp. 31,1 per Kg
Dalam sambutannya, Direktur Utama PT Citra Widya Education, St. Nugroho Kristono menyampaikan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat daya saing industri sawit nasional. Menurutnya, produktivitas kebun rakyat hingga kini masih memiliki kesenjangan dibandingkan perkebunan yang dikelola perusahaan, sehingga peningkatan kapasitas petani menjadi langkah strategis untuk memperbaiki kinerja usaha tani.
“Selama empat tahun terakhir PT Citra Widya Education terus dipercaya menjadi mitra penyelenggara program pelatihan SDM perkebunan kelapa sawit yang digagas Direktorat Jenderal Perkebunan dengan dukungan pendanaan BPDP,” kata Nugroho, dalam keterangannnya kepada InfoSAWIT, Selasa (14/7/2026).
Selama enam hari pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan dari praktisi dan tenaga ahli sektor perkebunan mengenai berbagai aspek teknis budidaya kelapa sawit. Materi yang diberikan meliputi teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga pengelolaan kebun yang berkelanjutan. Selain pembelajaran di kelas, peserta juga mengikuti sesi diskusi dan berbagi pengalaman untuk memperkaya pemahaman dalam penerapan praktik budidaya di lapangan.
BACA JUGA: Mengembalikan Koperasi kepada Rakyat, Bukan kepada Proyek Negara
Nugroho menyatakan akan melanjutkan pendampingan kepada peserta setelah pelatihan selesai agar materi yang diperoleh dapat diterapkan secara optimal di kebun masing-masing dan berdampak pada peningkatan produktivitas.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Neng, mengapresiasi dukungan Direktorat Jenderal Perkebunan, BPDP, PT Citra Widya Education, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program tersebut.
Menurutnya, pelatihan diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan budidaya sesuai standar Good Agricultural Practices (GAP) sehingga produksi tandan buah segar (TBS) semakin berkualitas dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
BACA JUGA: GAPKI Perluas Pasar Sawit ke Eurasia, Teken MoU Strategis dengan Asosiasi Minyak Nabati Rusia
Morowali Utara dipilih sebagai lokasi sasaran program karena merupakan daerah dengan areal perkebunan kelapa sawit terbesar di Sulawesi Tengah, mencapai lebih dari 38.000 hektare. “Wilayah ini juga didukung keberadaan lima pabrik kelapa sawit yang menjadi penggerak utama industri sawit di daerah tersebut,” katanya.
Melalui peningkatan kompetensi pekebun, pemerintah berharap produktivitas perkebunan rakyat dapat terus meningkat sehingga mampu mendukung kebutuhan bahan baku industri, memperkuat ketahanan energi melalui program biodiesel, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong pembangunan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. (T2)
