InfoSAWIT, JAKARTA – Kuliner tradisional Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil mencuri perhatian para duta besar negara sahabat dalam jamuan makan malam Ambassadors’ Dinner yang digelar di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta, Selasa (23/6/2026). Salah satu hidangan yang paling menarik perhatian adalah Fate Peri, olahan ulat bambu khas Bajawa, Flores, yang dikenal sebagai sumber protein alami masyarakat setempat.
Jamuan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pameran wastra NTT bertajuk Weaving Wonders dan Forum Ekonomi Restoratif Kunstkring Dialogue yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari diplomat, pemerintah, akademisi hingga komunitas adat.
Dari berbagai sajian khas NTT yang disuguhkan, Fate Peri menjadi menu yang paling banyak dibicarakan. Hidangan ini terbuat dari ulat bambu yang dipanen dari rumpun bambu pering, kemudian disangrai dan dibumbui secara sederhana menggunakan garam.
BACA JUGA: Buku Baru Abdul Hamdan Nasution Kupas Strategi Lolos Seleksi Asisten Kebun Sawit bagi Fresh Graduate
Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, mengaku terkesan setelah mencicipi makanan tradisional tersebut.
“Saya mencobanya dan rasanya memang unik, tetapi lezat,” ujarnya, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (25/6/2026).
Apresiasi serupa juga disampaikan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey. Dengan bahasa Indonesia yang fasih, ia memuji hidangan yang disiapkan oleh para perempuan dari Kampung Wogo, Bajawa.
“Untuk para Mama Wogo yang telah menyiapkan hidangan ini hanya ada satu kata: rasanya mantul,” katanya.
BACA JUGA: POPSI dan JPSN Minta Prabowo Tinjau Ulang Peran DSI, Khawatir Tekan Pendapatan Petani Sawit
Selain Dubes Singapura dan Inggris, jamuan tersebut turut dihadiri Duta Besar Mesir Yasser Elshemy, Duta Besar Jerman Ralf Beste, Duta Besar Italia Roberto Colamine, serta Laura Ferko, istri Duta Besar Slowakia.
Acara juga dihadiri sejumlah pejabat pemerintah, antara lain Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka, serta Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti.
Mama Wogo dan Upaya Pelestarian Pangan Lokal
Seluruh hidangan dalam jamuan tersebut disiapkan oleh para Mama Wogo, kelompok perempuan dari kampung adat di Bajawa yang selama ini aktif dalam pelestarian lingkungan berbasis bambu. Selain menjalankan kegiatan konservasi, mereka juga mengelola Kebun Pangan Perempuan yang menjadi sumber pangan lokal bergizi bagi masyarakat sekitar.
Tidak hanya menjaga ketahanan pangan keluarga, para Mama Wogo juga berperan penting dalam mempertahankan warisan kuliner tradisional NTT agar tetap lestari di tengah modernisasi.
Forum Kolaborasi untuk Pemberdayaan Perempuan Desa
Jamuan makan malam tersebut sekaligus menjadi pembuka Forum Ekonomi Restoratif Kunstkring Dialogue yang berlangsung pada 24–26 Juni 2026. Forum ini menghadirkan diskusi mengenai ekonomi restoratif, energi terbarukan, pariwisata berkelanjutan, serta kepemimpinan perempuan dalam konservasi lingkungan dan penguatan ekonomi desa.
Ketua Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), Monica Tanuhandaru, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun kolaborasi lintas sektor guna mendukung pemberdayaan perempuan pedesaan di NTT.
