Indonesia Punya Modal Besar Kembangkan SAF, Industri Sawit Dinilai Berperan Penting dalam Transisi Energi Penerbangan

oleh -275 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Istimewa/ Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berkat melimpahnya sumber bahan baku berbasis biomassa dan residu perkebunan.

InfoSAWIT, JAKARTA – Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain penting dalam pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berkat melimpahnya sumber bahan baku berbasis biomassa dan residu perkebunan. Namun, agar mampu bersaing di pasar global, pengembangan SAF tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku, melainkan harus didukung pembangunan rantai nilai industri yang terintegrasi, mulai dari riset, teknologi, logistik, hingga sertifikasi.

Strategic Advisor CECT Sustainability Universitas Trisakti, Dr. M. Windrawan Inantha menegaskan bahwa SAF perlu ditempatkan sebagai agenda strategis pengembangan industri nasional, bukan sekadar peluang mengekspor limbah atau residu perkebunan.

Menurut Windrawan, Indonesia memiliki keunggulan berupa ketersediaan minyak jelantah (used cooking oil/UCO), residu industri kelapa sawit, limbah pertanian, biomassa perkebunan, hingga sampah perkotaan yang berpotensi dikonversi menjadi bahan bakar penerbangan rendah emisi.

BACA JUGA: Diplomasi Sawit Indonesia Diperkuat, Sinergi Lintas Kementerian Siapkan Strategi Hadapi Tekanan Global

“Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah bahan bakunya tersedia, tetapi apakah Indonesia mampu membangun rantai nilai yang efisien, kredibel, dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri,” ujarnya, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Jumat (23/7/2026)

 

SAF Bukan Sekadar Biodiesel untuk Pesawat

Windrawan menekankan bahwa SAF tidak dapat disamakan dengan biodiesel yang digunakan pada sektor transportasi darat. Bahan bakar penerbangan berkelanjutan memiliki standar teknis, keselamatan, serta sertifikasi yang jauh lebih ketat karena harus memenuhi spesifikasi industri aviasi internasional.

SAF diproduksi dari berbagai sumber nonfosil, seperti minyak jelantah, lemak hewani, residu pertanian dan kehutanan, hingga bahan bakar sintetis berbasis hidrogen hijau dan karbon dioksida yang ditangkap (carbon capture). Setelah memenuhi standar yang ditetapkan, SAF dapat digunakan langsung (drop-in fuel) pada armada pesawat dan infrastruktur pengisian bahan bakar yang telah ada.

BACA JUGA: Produksi Sawit Malaysia Naik pada Juni, MPOC Proyeksikan Harga CPO Agustus Bertahan di RM4.400–RM4.650 per Ton

Selain kualitas produk, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian utama. Seluruh rantai pasok, mulai dari asal bahan baku, proses produksi, emisi sepanjang siklus hidup, hingga potensi perubahan penggunaan lahan, harus dapat ditelusuri dan diverifikasi.

 

Indonesia Harus Beralih dari Pemasok Bahan Baku ke Produsen SAF

Windrawan menilai kelimpahan bahan baku saja tidak cukup menjadikan Indonesia sebagai pemain utama industri SAF. Menurutnya, pembangunan fasilitas prapengolahan, kilang, sistem logistik, penyimpanan, pencampuran, sertifikasi, hingga ketertelusuran bahan baku menjadi elemen yang tidak kalah penting.

Ia mengingatkan agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, sementara nilai tambah industri justru dinikmati negara lain yang memiliki teknologi dan fasilitas pengolahan.

BACA JUGA: Pekerja Kebun Sawit di Siak Nyaris Diserang Harimau Sumatera, BBKSDA Riau Perketat Pemantauan

“Indonesia harus bergerak dari sekadar feedstock country menjadi SAF producing country,” tegasnya.

Ia juga memperkirakan persaingan memperoleh minyak jelantah dan residu minyak akan semakin ketat seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap SAF. Oleh sebab itu, Indonesia perlu mengembangkan berbagai jalur teknologi sekaligus agar tidak bergantung pada satu jenis bahan baku.

 

Kebijakan dan Investasi Menjadi Penentu

Selain aspek teknologi, harga SAF yang masih jauh lebih mahal dibandingkan bahan bakar jet konvensional dinilai menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan industri ini.

 

Dapatkan update berita InfoSAWIT setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com