Windrawan menilai pemerintah perlu menghadirkan kepastian pasar melalui berbagai instrumen kebijakan, seperti target penggunaan SAF secara bertahap, insentif fiskal, dukungan pembiayaan, kontrak pembelian jangka panjang, hingga mekanisme pembagian biaya yang tetap menjaga daya saing maskapai nasional.
Ia juga mengusulkan pembangunan fasilitas pengolahan berskala modular yang ditempatkan dekat dengan sumber biomassa. Pendekatan berbasis klaster dinilai lebih efisien karena mampu menghimpun residu dari perkebunan kelapa sawit, industri pangan, maupun kawasan perkotaan sehingga biaya logistik dapat ditekan.
Sebagai langkah strategis, Windrawan mengusulkan lima agenda utama, yakni penyusunan peta jalan nasional SAF, pemetaan detail potensi bahan baku, percepatan proyek percontohan berbagai teknologi, pembangunan sistem sertifikasi dan ketertelusuran sejak awal, serta pembentukan pasar domestik melalui kemitraan antara pemerintah, produsen bahan bakar, maskapai, pengelola bandara, pelaku industri perkebunan, dan lembaga pembiayaan.
BACA JUGA: Hasil Riset BPDP Harus Menjawab Kebutuhan Nyata Petani Sawit
Menurutnya, keberhasilan pengembangan SAF akan menjadi tolok ukur kemampuan Indonesia dalam mengubah keunggulan sumber daya alam menjadi keunggulan industri berteknologi tinggi sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi global. (T2)
