InfoSAWIT, YOGYAKARTA – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prof. H. Rachmat Pambudy, MS, menilai pengembangan hilirisasi industri kelapa sawit nasional perlu diawali dengan pembenahan sektor hulu. Hal tersebut disampaikannya saat mengunjungi fasilitas pengolahan kelapa sawit dengan teknologi Steamless Palm Oil Technology (SPOT) di Kampus INSTIPER Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Rachmat menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas kebun, efisiensi penggunaan sumber daya, serta pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari penguatan industri sawit nasional.
Menurutnya, agenda hilirisasi yang menjadi salah satu mandat pemerintah tidak akan berjalan optimal apabila persoalan di sektor hulu atau on-farm belum tertangani dengan baik.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw pada Senin (7/9), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
“Intinya Bappenas diminta mengurus hilirisasi. Hilirisasi sawit. Hilirisasi sawit hanya bisa terjadi kalau on-farm (kebun) beres, hulunya beres,” tegas Rachmat dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Selasa (7/9/2026).
Ia menilai sektor hulu memiliki peran penting karena produktivitas dan kualitas bahan baku akan memengaruhi efisiensi proses pengolahan serta daya saing produk pada tahap hilir.
Efisiensi Sumber Daya Jadi Perhatian
Selain pembenahan perkebunan, pemerintah juga mendorong agar pengembangan industri sawit memperhatikan penggunaan sumber daya secara lebih efisien. Aspek konsumsi energi, penggunaan air, dan pengelolaan dampak lingkungan dinilai perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan hilirisasi.
Rachmat menyampaikan pandangan tersebut setelah melihat salah satu pengembangan teknologi pengolahan sawit di lingkungan INSTIPER Yogyakarta. Fasilitas tersebut merupakan bagian dari Teaching Plant yang dikembangkan melalui kolaborasi Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) dengan PT Nusantara Green Energy (NGE).
Pengembangan teknologi tersebut telah dimulai sejak 2022 melalui riset kelapa sawit yang mendapatkan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Perwakilan PT NGE, Petrus Tjandra, menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan menggunakan bahan baku berupa brondolan, sedangkan janjang kosong tetap berada di kebun dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik.
BACA JUGA: IHCS: Mestinya Bupati Punya Kewenangan Menangani Persoalan Kebun Masuk Kawasan Hutan
Menurut Petrus, proses tersebut dirancang untuk mengurangi kebutuhan energi pengolahan. Teknologi SPOT juga tidak menggunakan stasiun sterilizer atau proses perebusan TBS dengan uap bertekanan tinggi sebagaimana yang umum digunakan dalam pengolahan kelapa sawit konvensional.
Kondisi tersebut, menurut dia, dapat mengurangi kebutuhan air dan limbah cair dari proses pengolahan. Namun, penerapan teknologi pengolahan tetap perlu mempertimbangkan aspek teknis, keekonomian, kapasitas, serta kesesuaiannya dengan kondisi perkebunan dan industri di lapangan.
Nilai Tambah Produk Sawit
Pengembangan hilirisasi juga berkaitan dengan upaya menghasilkan produk sawit dengan nilai tambah lebih tinggi. Petrus menyebut minyak yang dihasilkan dari proses tersebut memiliki kandungan nutrisi seperti vitamin A, vitamin E, dan antioksidan.
BACA JUGA: SPKS: Penertiban Kebun Sawit di Kawasan Hutan Harus Diikuti Kepastian Hukum Petani
Ia menilai karakteristik tersebut dapat membuka peluang pemanfaatan minyak sawit dalam berbagai produk pangan. Salah satu contoh yang disampaikan adalah penggunaan minyak sawit sebagai bagian dari bahan pangan yang dapat membantu memperluas akses terhadap sumber vitamin A.
Namun, dari sisi kebijakan, Rachmat menekankan bahwa peningkatan nilai tambah tidak cukup hanya dilihat dari jenis produk yang dihasilkan. Proses produksi juga harus memperhatikan efisiensi sumber daya dan dampak lingkungan.
Rachmat mengatakan arah pengembangan industri sawit perlu mengintegrasikan sektor hulu dan hilir. Produktivitas perkebunan, efisiensi pengolahan, serta inovasi teknologi harus ditempatkan dalam satu rantai industri yang saling mendukung.
BACA JUGA: Konflik Agraria Rakawuta dan Muara Tae Disorot, Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Bertindak
“Hari ini saya akan mendeklarasikan minyak sawit yang rendah emisi karbon, rendah konsumsi energi, dan rendah konsumsi air, serta tinggi kandungan nutrisi,” ujarnya. (T2)
