InfoSAWIT, JAKARTA – Membangun kapasitas petani sawit menuju praktik yang lebih berkelanjutan tidak hanya membutuhkan materi pelatihan yang baik, tetapi juga kemampuan membangun kepercayaan dan memahami kondisi sosial di tingkat lapangan. Hal tersebut menjadi salah satu pelajaran utama yang diperoleh para Pelatih Utama dalam Smallholder Trainer Academy (STA) yang dikembangkan oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
Dilansir InfoSAWIT dari RSPO, Sabtu (11/7/2026), para Pelatih Utama STA sepakat bahwa tantangan terbesar dalam mendampingi petani sawit bukan sekadar menjelaskan konsep keberlanjutan, melainkan menerjemahkan berbagai standar yang kompleks menjadi praktik sederhana yang mudah diterapkan oleh petani.
Sebagian besar pelatih memiliki latar belakang teknis yang kuat. Namun, mereka mengakui bahwa keberhasilan pelatihan justru lebih ditentukan oleh kemampuan interpersonal, seperti membangun kepercayaan, memahami budaya lokal, serta mendorong perubahan perilaku petani yang selama puluhan tahun telah terbiasa dengan cara bertani tertentu.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Masih Withdraw pada Rabu (8/7), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Pelatih Utama STA asal Indonesia, Sarjan Alatas, mengatakan bahwa pendampingan terhadap petani sawit independen memerlukan waktu dan pendekatan yang lebih intensif dibandingkan kelompok petani lainnya.
“Petani kecil independen biasanya membutuhkan lebih banyak waktu, energi, dan usaha. Kami juga harus menyesuaikan pendekatan dengan karakter petani, budaya setempat, serta bahasa yang digunakan di lapangan,” ujarnya.
Pelatih Dibekali Metode Pembelajaran Orang Dewasa
Untuk menjawab tantangan tersebut, RSPO mengembangkan Program Pelatihan Master STA yang tidak hanya memperkuat penguasaan materi, tetapi juga meningkatkan kemampuan para pelatih dalam menyampaikan informasi secara efektif.
Program ini dirancang berdasarkan metode pembelajaran orang dewasa (adult learning), yang menitikberatkan pada bagaimana peserta memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan baru dalam aktivitas sehari-hari.
Selain mengikuti pelatihan formal, para pelatih juga memperoleh pendampingan melalui praktik lapangan, webinar, pertukaran pengalaman antar pelatih melalui Portal STA, hingga bimbingan secara berkelanjutan.
Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan diri para pelatih dalam menghadapi berbagai situasi di lapangan, termasuk menyesuaikan bahasa penyampaian dan menghubungkan konsep keberlanjutan dengan kebutuhan nyata petani.
BACA JUGA: SPKS Minta Pemerintah Libatkan Koperasi Petani Swadaya, Untuk Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi
Pelatih Master STA asal Malaysia, Nur Syafiqah Syuhadah Tajudin, mengaku program tersebut membantunya meningkatkan efektivitas komunikasi dengan petani.
“Sejak mengikuti Program Pelatihan Master STA, saya terus meningkatkan cara berinteraksi dengan petani secara efektif. Materi pembelajaran STA juga membantu memperkuat pemahaman sehingga pelatihan menjadi lebih berdampak,” katanya.
Lebih dari 18.000 Petani Telah Mendapat Pelatihan
Sejak diluncurkan pada 2019, jaringan Pelatih Utama STA telah melatih lebih dari 18.000 petani sawit di berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, sejumlah negara di Amerika Latin, hingga Afrika.
