RSPO menilai capaian tersebut bukan sekadar angka, melainkan bagian dari proses perubahan menuju praktik budidaya sawit yang lebih berkelanjutan. Dampaknya terlihat dari meningkatnya kapasitas para pelatih, perubahan pola pikir petani, hingga perbaikan pengelolaan kebun yang secara bertahap berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan keluarga petani.
Di sisi lain, program ini juga membuka peluang baru bagi para pelatih melalui peningkatan kompetensi profesional, pengakuan yang lebih luas, serta kesempatan bergabung dalam jaringan global yang memiliki visi serupa dalam mendorong keberlanjutan sektor sawit.
Fokus pada Pendampingan Berkelanjutan
Ke depan, RSPO menegaskan bahwa fokus STA tidak hanya menambah jumlah pelatih maupun peserta, tetapi memastikan praktik-praktik baik yang telah diajarkan benar-benar diterapkan secara konsisten di lapangan.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Kalteng Periode II-Juni 2026 Naik Rp14,91 per Kg
Upaya tersebut dilakukan melalui pembelajaran antar pelatih, pendampingan berkelanjutan, serta evaluasi berkala agar perubahan yang telah dimulai dapat terus berkembang.
“Kami berharap setiap Pelatih Utama yang telah dibina mampu terus menjangkau dan memberdayakan lebih banyak petani kecil, sekaligus membagikan pengalaman mereka sehingga dampak yang tercipta dapat terus diperkuat dan berkelanjutan,” ujar tim STA.
Bagi RSPO, transformasi sektor sawit berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh hadirnya berbagai kebijakan atau standar sertifikasi, tetapi juga oleh para pelatih yang mampu menerjemahkan konsep-konsep tersebut menjadi praktik nyata di tingkat petani. Dengan pendekatan yang tepat, perubahan menuju perkebunan sawit yang lebih berkelanjutan diyakini dapat tumbuh dari kebun-kebun petani kecil di berbagai belahan dunia. (T2)
