InfoSAWIT, JAKARTA – Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dinilai tidak hanya menjadi solusi untuk mengganti tanaman sawit tua, tetapi juga menjadi pintu masuk memperkuat produktivitas, tata kelola, dan daya saing petani sawit nasional. Melalui pendampingan yang terintegrasi, Sinar Mas Agribusiness and Food mendorong petani agar mampu mengakses pembiayaan, memenuhi standar keberlanjutan, hingga memperoleh peluang pasar yang lebih luas.
Head of Strategic PSR Sinar Mas Agribusiness and Food, Muhammad Iqbal, menjelaskan perusahaan berperan aktif mendampingi petani mitra dalam mengakses pendanaan PSR melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP). Pendampingan tersebut dilakukan untuk mendukung penguatan ketahanan pangan dan energi nasional sekaligus meningkatkan produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia.
Menurut Iqbal, perusahaan tidak hanya membantu petani memenuhi persyaratan administrasi pengajuan dana hibah PSR, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan petani dan mempersiapkan mereka memenuhi sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).
BACA JUGA: PROFOSS 2 Resmi Diluncurkan, Adopsi Teknologi Monitoring FFA Realtime
“Pendekatan ini bertujuan memastikan petani memenuhi standar keberlanjutan nasional sekaligus memperluas akses terhadap pasar ekspor dan pembiayaan formal,” ujarnya, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Rabu (15/7/2026).
Ia menambahkan, sertifikasi ISPO berperan penting dalam mendorong tata kelola kebun yang lebih akuntabel, meningkatkan transparansi usaha, memperkuat kepastian berusaha, serta membantu memitigasi berbagai tantangan yang dihadapi petani di lapangan. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperkuat ekonomi pedesaan melalui tata kelola sektor sawit yang semakin baik.
Dalam implementasi PSR, Sinar Mas Agribusiness and Food berperan sebagai mitra pendamping petani sejak tahap awal. Pendampingan mencakup kesiapan lahan, penguatan kelembagaan petani, aspek teknis budidaya, hingga dukungan pembiayaan dana pendamping.
Iqbal menjelaskan, pendekatan tersebut merupakan bagian dari inisiatif Collective for Impact, yang mengedepankan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus keberlanjutan petani. Melalui pendekatan itu, dukungan terhadap legalitas, pembiayaan, dan peningkatan kapasitas petani diintegrasikan untuk menghasilkan dampak yang terukur serta memperkuat kemitraan jangka panjang dalam rantai pasok sawit.
Dari sisi produktivitas, PSR memungkinkan petani mengganti tanaman tua dengan bibit unggul, termasuk bibit Dami Mas, serta menerapkan good agricultural practices (GAP). Menurut Iqbal, pendampingan yang dilakukan secara konsisten menjadi faktor penting agar peningkatan produktivitas berlangsung secara optimal dan berkelanjutan, sekaligus memperbaiki pengelolaan kebun secara menyeluruh.
Bagi kebun yang telah memasuki masa produktif, perusahaan juga membantu petani mengakses berbagai program pemerintah yang berfokus pada penyediaan sarana dan prasarana. Bantuan tersebut meliputi bibit unggul, pupuk, pestisida, alat panen, alat dan mesin pertanian untuk perawatan kebun, hingga prasarana pendukung seperti infrastruktur logistik sederhana dan jalan kebun.
BACA JUGA: GAPKI Perluas Pasar Sawit ke Eurasia, Teken MoU Strategis dengan Asosiasi Minyak Nabati Rusia
“Kami meyakini bahwa petani merupakan fondasi dari rantai pasok kelapa sawit yang berkelanjutan. Karena itu kami tidak hanya mendukung peningkatan produktivitas, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan komitmen kemitraan jangka panjang melalui pendampingan sertifikasi dan penerapan praktik budidaya yang lebih baik,” kata Iqbal.
Dalam membantu petani mengakses PSR, perusahaan juga memfasilitasi proses administrasi, verifikasi, serta pembentukan kelembagaan petani agar seluruh persyaratan program pemerintah dapat dipenuhi secara tepat waktu. Selain itu, Sinar Mas Agribusiness and Food turut mendampingi petani dalam mempersiapkan sertifikasi ISPO.
Untuk mendukung pembiayaan pendamping peremajaan, perusahaan menjembatani petani dengan lembaga keuangan melalui penguatan kesiapan dokumen, tata kelola kelembagaan, serta kelayakan usaha. Pendekatan tersebut membuat petani memiliki profil yang lebih bankable, sehingga peluang memperoleh pembiayaan menjadi semakin terbuka.
