InfoSAWIT, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) melaporkan ekspor produk sawit Indonesia mengalami penurunan tajam pada Mei 2026. Pelemahan terjadi hampir di seluruh kelompok produk utama, mulai dari minyak sawit olahan, crude palm oil (CPO), hingga produk olahan minyak inti sawit. Meski demikian, akumulasi ekspor selama Januari–Mei 2026 masih mencatatkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono, dalam keterangan resmi yang ditulis InfoSAWIT, Kamis (16/7/2026), mengungkapkan total ekspor produk sawit pada Mei 2026 hanya mencapai 1,996 juta ton, turun 28,14 persen dibandingkan April 2026 yang mencapai 2,777 juta ton.
Penurunan terbesar terjadi pada ekspor produk olahan minyak sawit yang merosot menjadi 1,423 juta ton dari 2,041 juta ton pada April, atau turun 30,26 persen. Sementara itu, ekspor CPO turun drastis hingga 79,7 persen, dari 153 ribu ton menjadi hanya 31 ribu ton. Ekspor produk olahan minyak inti sawit (palm kernel oil/PKO) juga melemah 43,4 persen, dari 97 ribu ton menjadi 55 ribu ton.
Meski terjadi koreksi bulanan, kinerja ekspor sepanjang lima bulan pertama tahun ini masih menunjukkan tren positif. Selama Januari–Mei 2026, total ekspor produk sawit Indonesia mencapai 13,320 juta ton, meningkat 10,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 12,080 juta ton.
Penurunan volume ekspor pada Mei turut memengaruhi nilai ekspor nasional. GAPKI mencatat nilai ekspor produk sawit selama bulan tersebut sebesar US$2,49 miliar, turun 26,3 persen dibandingkan April yang mencapai US$3,38 miliar.
Selain dipengaruhi turunnya volume pengiriman, pelemahan nilai ekspor juga dipicu penurunan harga referensi minyak sawit di pasar internasional. Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam pada Mei 2026 tercatat US$1.453 per ton, lebih rendah 7,2 persen dibandingkan April yang mencapai US$1.566 per ton.
Namun secara kumulatif, nilai ekspor industri sawit Indonesia masih tumbuh positif. Selama Januari–Mei 2026, nilai ekspor mencapai US$15,526 miliar, meningkat 13,82 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$13,641 miliar. Peningkatan tersebut turut didukung rata-rata harga CPO CIF Rotterdam yang mencapai US$1.417 per ton, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Januari–Mei 2025 yang sebesar US$1.186 per ton.
Dari sisi negara tujuan, penurunan ekspor pada Mei terjadi hampir di seluruh pasar utama. Pengiriman ke China berkurang 164 ribu ton atau turun 30 persen, sementara ekspor ke India merosot 124 ribu ton atau 60 persen. Penurunan juga tercatat untuk kawasan Afrika sebesar 140 ribu ton (-36 persen), Uni Eropa sebesar 26 ribu ton (-5 persen), Amerika Serikat sebesar 78 ribu ton (-37 persen), serta Malaysia sebesar 49 ribu ton (-36 persen).
Di tengah pelemahan tersebut, pasar Rusia menjadi pengecualian. Ekspor produk sawit Indonesia ke negara itu meningkat 86 ribu ton, atau melonjak 216 persen dibandingkan April.
BACA JUGA: B50 dan Trilema Pangan, Energi, dan Ekspor
Secara kumulatif selama Januari–Mei 2026, ekspor ke sejumlah pasar utama masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pengiriman ke China meningkat 46 persen, ke India naik 3 persen, ke kawasan Afrika bertambah 14 persen, dan ke Uni Eropa tumbuh 3 persen. Sebaliknya, ekspor ke Amerika Serikat masih tercatat 8 persen lebih rendah dibandingkan capaian pada Januari–Mei 2025.
Data GAPKI tersebut menunjukkan bahwa meskipun industri sawit menghadapi tekanan ekspor pada Mei 2026, performa perdagangan sepanjang lima bulan pertama tahun ini masih berada pada jalur pertumbuhan, baik dari sisi volume maupun nilai ekspor, didukung oleh harga CPO global yang relatif lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. (T2)
