InfoSAWIT, JAKARTA – Keberadaan perkebunan kelapa sawit yang membentang luas dari Pulau Sumatera hingga Pulau Papua, banyak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat luas, termasuk petani kelapa sawit. Keberadaan perkebunan kelapa sawit yang dikelola secara monokultur, didorong untuk dikembangkan secara Regeneratif.
Menurut Senior Advisor Palm Oil, Dani Rahardian, pembangunan perkebunan kelapa sawit memiliki tantangan berbeda terhadap lahan perkebunan milik perusahaan dibandingkan dengan milik petani kelapa sawit. Pasalnya, keberadaan lahan perkebunan dengan luasan tertentu, menjadi lebih mudah bila dikembangkan menjadi agrikultur regeneratif.
“SNV akan mencoba melakukan scale up guna mendorong pembangunan agrikultur regeneratif ini, menjadi lebih berkembang di masa depan,” ujar Dani menjelaskan dalam acara “SNV Impact Forum 2026”, dihadadiri InfoSAWIT, Kamis (16/7/2026).
BACA JUGA: SNV Impact Forum 2026: Solusi Regenerative Agriculture Bagi Keberlanjutan
Senada dengan Dani, dikatakan perwakilan dari perusahaan Louis Dreyfus, Harry Puguh Sosiawan, guna mendorong agrikultur regeneratif dikembangkan bersama perusahaan dan petani kelapa sawit.
“Kami akan mendorong perusahaan dan petani kelapa sawit untuk bersama-sama membangun agrikultur regeneratif guna meningkatkan kesejahteraan bersama,” ujar Harry menjelaskan.
Pasalnya, keberhasilan pembangunan agrikultur regeneratif, merupakan kolaborasi mukti pihak, guna mendorong kesejahteraan bersama.
“Bukti nyata pembangunan agrikultur regeneratif sudah kami lakukan di lahan perkebunan kelapa sawit milik kami di daerah Labuhan Baru,” ungkap Syahrianto dari Asosiasi Pekebun Swadaya Kelapa Sawit Labuhan Batu.
Syahrianto juga mengajak para peserta SNV Impact Forum 2026 yang hadir untuk melihat dan berkunjung langsung ke kebun sawit milik mereka di Labuhan baru. “Silahkan melihat langsung pembangunan agrikultur regeneratif yang sudah kami kembangkan,” ujarnya seraya mengajak. (T1)
