InfoSAWIT, JAKARTA – Selama puluhan tahun, pertanian Indonesia berjalan dengan pola yang sama, monokultur, pupuk kimia, dan produksi setinggi mungkin. Namun di balik hasil panen, tanah perlahan menurun kualitasnya dan petani tetap berada di ujung paling awal rantai nilai. Kini, melalui pendekatan pertanian regeneratif dan agroforestri, sejumlah komunitas petani mulai mencoba mengubah sistem—memulihkan kesehatan tanah sekaligus merebut kembali nilai ekonomi yang selama ini hilang dari desa.
Perubahan dalam sistem pertanian sering kali tidak dimulai dari ladang, melainkan dari cara berpikir. Selama puluhan tahun, banyak petani di Indonesia terbiasa dengan satu pola yang dianggap paling masuk akal, menanam satu komoditas, menggunakan pupuk kimia, dan mengejar produksi setinggi mungkin. Pola itu begitu lama dipraktikkan hingga menjadi kebiasaan kolektif—bahkan semacam budaya dalam bertani.
Namun di balik kebiasaan itu, persoalan perlahan muncul ke permukaan. Tanah semakin miskin bahan organik, kualitas lahan menurun, dan produktivitas tidak lagi stabil seperti dulu. Dalam pandangan Mansuetus Darto, Sekretariat Asosiasi Bertani Asri Inovasi Berkelanjutan (Tani Baik), situasi ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang industrialisasi pertanian yang telah berlangsung sejak masa revolusi industri hingga kebijakan modernisasi pertanian beberapa dekade terakhir.
BACA JUGA: Pertanian Regeneratif Petani Sawit Swadaya Berpotensi Turunkan Emisi Karbon
Menurut Darto, pola pertanian yang berkembang selama ini membentuk sistem yang sangat bergantung pada input eksternal, terutama pupuk kimia. Selama puluhan tahun, petani terus diperkenalkan pada berbagai produk pupuk melalui promosi dan pemasaran yang kuat. Brosur, demonstrasi produk, hingga dukungan sistem permodalan memperkuat dominasi pupuk kimia dalam praktik budidaya.
“Selama berpuluh-puluh tahun petani dicekoki dengan promosi pupuk kimia,” ujarnya.
Di sisi lain, pendekatan alternatif—seperti pertanian regeneratif—tidak mendapat ruang promosi yang sama. Informasi tentang sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan jarang diperkenalkan secara luas kepada petani. Akibatnya, banyak petani tetap mengikuti pola yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Warisan Sistem Konvensional
Dalam praktiknya, pertanian konvensional bukan sekadar metode produksi, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Petani muda belajar dari orang tua mereka, mengulangi pola yang sama dari musim ke musim. Masalahnya, kondisi lingkungan terus berubah.
Perubahan iklim membuat pola musim semakin sulit diprediksi. Curah hujan yang tidak menentu, suhu yang meningkat, serta serangan hama dan penyakit yang semakin kompleks menuntut sistem pertanian yang lebih adaptif.
Namun banyak petani belum memiliki cukup pengetahuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. “Petani akhirnya tetap mengikuti pola konvensional karena memang itu yang mereka kenal,” kata Darto.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berdampak pada dua hal sekaligus, penurunan produktivitas dan semakin menyempitnya komunitas petani yang mampu bertahan.
Monokultur yang berlangsung luas juga memperparah kerentanan ekosistem pertanian. Tanah kehilangan keanekaragaman hayati, struktur biologinya menurun, dan kemampuan menyimpan air semakin berkurang.
Tekanan dari Perubahan Iklim
Di tengah kondisi itu, perubahan iklim menjadi faktor yang semakin memperumit situasi. Cuaca ekstrem membuat siklus pertanian menjadi tidak stabil. Musim kemarau lebih panjang di beberapa wilayah, sementara di daerah lain hujan datang lebih intens dari biasanya.
