Perubahan ini memengaruhi kesehatan tanaman sekaligus menambah risiko bagi petani. Pada saat yang sama, ekspansi lahan pertanian dan perkebunan dalam beberapa dekade terakhir juga berkaitan dengan deforestasi yang mempercepat degradasi lingkungan.
Bagi Darto, semua faktor tersebut menunjukkan bahwa sistem pertanian yang ada saat ini perlu mengalami perubahan.
Menariknya, dorongan untuk berubah tidak hanya datang dari persoalan lingkungan, tetapi juga dari pasar. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar global mulai memberikan perhatian lebih besar pada praktik pertanian yang berkelanjutan. Standar produksi yang ramah lingkungan semakin banyak diterapkan, terutama untuk komoditas ekspor.
Konsumen di berbagai negara mulai mempertanyakan bagaimana sebuah produk pertanian diproduksi—apakah merusak lingkungan atau justru membantu memulihkan ekosistem.
Perubahan ini membuka peluang bagi pendekatan seperti pertanian regeneratif.
Menurut Darto, sistem ini tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan antara lingkungan, sosial, dan keberlanjutan produksi. “Pertanian regeneratif berupaya menjaga keseimbangan itu,” katanya.
Lebih lanjut bagi Darto dan rekan-rekannya, tujuan dari berbagai inisiatif ini bukan sekadar memperkenalkan teknik baru dalam bertani. Lebih dari itu, mereka ingin mendorong perubahan sistemik dalam cara pertanian dijalankan.
Artinya, perubahan tidak hanya terjadi di tingkat lahan, tetapi juga dalam jaringan pengetahuan, pasar, dan kebijakan yang memengaruhi kehidupan petani.
Dalam kerangka itu, pertanian regeneratif dipandang sebagai salah satu jalan untuk mempertemukan berbagai kepentingan—produktivitas ekonomi, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan sosial. (T2)
