InfoSAWIT, JAKARTA – Di banyak wilayah Indonesia, tanah yang selama ini dianggap subur perlahan kehilangan daya hidupnya—unsur hara menurun, erosi meningkat, dan ketergantungan pada pupuk kimia semakin besar. Kekhawatiran itu mendorong munculnya gagasan pertanian regeneratif, pendekatan yang menempatkan kesehatan tanah sebagai fondasi produksi pangan. Petani sawit di Seruyan, Kalimantan Tengah pun mulai mencoba memulihkan tanah secara perlahan.
Di negeri yang tanahnya subur dalam bayangan kolektif, kenyataan di lapangan sering berkata lain. Tanah Indonesia memang luas, hujan melimpah, dan vegetasi tumbuh hampir sepanjang tahun. Namun di balik citra itu, banyak lahan pertanian diam-diam kehilangan napasnya.
Dr. Heru Bagus Pulunggono, dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB University, melihat gejala itu dari dekat. Ia memulai penjelasannya dari sesuatu yang sederhana tetapi fundamental, karakter dasar tanah Indonesia.
BACA JUGA: Danantara Pastikan Ekspor Komoditas Strategis Tetap Lancar, Fokus Awasi Praktik Under-Invoicing
Sebagian besar tanah di Indonesia, katanya, memiliki solum sedang hingga dalam, tetapi dengan tingkat keasaman tinggi. Kondisi itu membuat banyak unsur hara penting bagi tanaman—seperti nitrogen, fosfor, dan kalium—sering kali berada pada tingkat rendah. Curah hujan yang tinggi, yang selama ini dianggap berkah bagi pertanian tropis, justru mempercepat proses pencucian unsur hara dari tanah. Akibatnya, tanah menjadi semakin miskin nutrisi.
Dalam kondisi seperti itu, satu persoalan lain muncul, erosi. Pada banyak lahan pertanian—terutama yang diolah secara intensif—lapisan tanah subur perlahan terkikis oleh air hujan. Tanah kehilangan struktur alaminya. Produktivitas menurun, sering tanpa disadari oleh petani yang setiap musim tetap menanam seperti biasa.
“Jika dibiarkan terus, kualitas lahan akan turun dari tahun ke tahun,” kata Heru.
BACA JUGA: Surplus Neraca Dagang RI Berlanjut 72 Bulan, Produk Sawit Sumbang Devisa Terbesar
Paradoks Produktivitas
Sejak lama pertanian modern didorong oleh satu tujuan utama, produktivitas setinggi mungkin. Paradigma ini melahirkan praktik-praktik budidaya konvensional yang menekankan penggunaan pupuk kimia, pengolahan tanah intensif, serta varietas unggul yang responsif terhadap input tinggi.
Dalam jangka pendek, pendekatan itu memang berhasil meningkatkan hasil panen. (*)
