InfoSAWIT, JAKARTA – Implementasi mandatori Biodiesel B50 dinilai bukan hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit Indonesia. Pemerintah menilai masih terdapat ruang yang cukup besar bagi perkebunan rakyat untuk meningkatkan hasil produksi melalui perbaikan budidaya, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta dukungan investasi.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, saat konferensi pers di sela-sela Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang dihadiri InfoSAWIT, Senin (20/7/2026), di Jakarta.
Heru mengatakan, peningkatan produktivitas menjadi agenda penting agar industri sawit nasional tetap mampu bersaing dengan negara produsen lainnya, sekaligus memenuhi kebutuhan minyak sawit yang terus meningkat akibat implementasi program Biodiesel B50.
BACA JUGA: 118 Pekebun Empat Lawang Perkuat Kompetensi Budidaya Sawit Berkelanjutan Lewat Pelatihan BPDP
Menurutnya, produktivitas kebun rakyat masih memiliki potensi yang cukup besar untuk ditingkatkan apabila didukung oleh penerapan praktik budidaya yang baik, penggunaan benih unggul, serta peningkatan kapasitas pekebun.
“Masih ada ruang bagi kita untuk terus meningkatkan produktivitas sawit nasional. Program Biodiesel B50 menjadi salah satu faktor pendorong agar produksi sawit Indonesia dapat terus ditingkatkan,” ujar Heru.
Ia menjelaskan, pemerintah terus memperkuat berbagai program pengembangan perkebunan melalui pembinaan teknis, penilaian usaha perkebunan, hingga dukungan investasi yang melibatkan pemerintah maupun sektor swasta.
BACA JUGA: PTPN IV PalmCo: Riset Sawit Harus Menjawab Kebutuhan Industri dan Petani di Tengah Tantangan B50
Selain peningkatan produksi, Heru menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam mendukung keberhasilan pembangunan perkebunan sawit. Menurutnya, transfer teknologi dan peningkatan kompetensi pekebun harus terus diperluas agar inovasi yang dihasilkan lembaga riset dapat diterapkan secara efektif di lapangan.
“Peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah. SDM pekebun juga harus terus diperkuat sehingga berbagai inovasi dan teknologi budidaya dapat diimplementasikan dengan baik,” katanya.
Heru mengungkapkan, hingga saat ini pemerintah telah mendorong pengembangan perkebunan sawit pada lahan seluas sekitar 360 ribu hektare. Upaya tersebut akan terus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II-Juli 2026 Naik Rp77,19 per Kg
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas merupakan pilihan yang lebih strategis dibanding hanya mengandalkan perluasan areal tanam. Dengan memaksimalkan potensi kebun yang telah ada, produksi sawit nasional diyakini dapat terus meningkat tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan.
Menurut Heru, keberhasilan program Biodiesel B50 akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia menjaga pasokan bahan baku dari dalam negeri. Karena itu, peningkatan produktivitas kebun rakyat menjadi salah satu prioritas yang harus terus didorong.
“Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk menghasilkan sawit yang lebih produktif, lebih efisien, dan lebih berdaya saing sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri sekaligus mempertahankan posisi Indonesia di pasar global,” pungkasnya. (T2)
