Surplus Neraca Dagang RI Berlanjut 72 Bulan, Produk Sawit Sumbang Devisa Terbesar

oleh -159 Kali Dibaca
Editor: Redaksi InfoSAWIT
InfoSAWIT
Dok. Humas Kemendag/ Menteri Perdagangan, Budi Santoso.

InfoSAWIT, JAKARTA – Kinerja perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada April 2026, memperpanjang tren positif yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Meski nilai surplus bulanannya relatif tipis, komoditas sawit dan turunannya masih menjadi penyumbang devisa terbesar yang menopang neraca perdagangan nasional.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$ 0,09 miliar. Capaian tersebut ditopang surplus sektor nonmigas sebesar US$ 3,53 miliar yang mampu mengimbangi defisit sektor migas sebesar US$ 3,44 miliar.

“Jika dilihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari–April 2026 mencatatkan surplus sebesar US$ 5,64 miliar. Surplus tersebut terutama didorong oleh surplus nonmigas sebesar US$ 14,16 miliar dan defisit migas sebesar US$ 8,52 miliar,” ujar Budi Santoso, dalam keterangan resmi ditulis InfoSAWIT, Minggu (7/6/2026).

BACA JUGA: GAPKI Kalbar dan BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Pekerja Sawit untuk Dukung Industri Berkelanjutan

Meski demikian, nilai surplus empat bulan pertama tahun ini masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 11,07 miliar.

 

Sawit Jadi Penopang Utama Surplus Nonmigas

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan kelompok komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), yang didominasi produk minyak sawit dan turunannya, menjadi penyumbang surplus perdagangan terbesar sepanjang Januari–April 2026 dengan nilai mencapai US$ 11,71 miliar.

Posisi tersebut jauh melampaui kontribusi bahan bakar mineral (HS 27) yang mencatat surplus US$ 8,34 miliar dan besi serta baja (HS 72) sebesar US$ 5,71 miliar.

BACA JUGA: UMM dan Bumitama Gunajaya Agro Perkuat Link and Match, Siapkan Talenta Muda Sawit Siap Kerja

Di sisi lain, defisit perdagangan terbesar berasal dari kelompok mesin dan peralatan mekanis (HS 84) sebesar US$ 9,87 miliar, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) sebesar US$ 4,95 miliar serta plastik dan barang dari plastik (HS 39) senilai US$ 2,80 miliar.

Dari sisi negara tujuan perdagangan, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai US$ 6,81 miliar, disusul India sebesar US$ 4,44 miliar dan Filipina US$ 2,77 miliar. Sementara defisit terdalam masih terjadi dengan Tiongkok sebesar US$ 8,03 miliar.

Menurut Mendag, pemerintah terus memperkuat strategi diversifikasi pasar ekspor sekaligus mendorong hilirisasi industri agar kinerja ekspor nasional tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.

BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 5-11 Juni 2026  Naik Rp137,45/Kg

“Kemendag terus bersinergi memantau dan menentukan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas perdagangan, memperkuat daya saing ekspor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujarnya.

 

Ekspor Produk Sawit Melonjak Hampir 39 Persen

Pada April 2026, total ekspor Indonesia mencapai US$ 25,30 miliar atau meningkat 12,32 persen dibandingkan Maret 2026 dan melonjak 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang naik 13,66 persen secara bulanan, sementara ekspor migas mengalami penurunan 9,81 persen.

 

Dapatkan update berita seputar harga TBS, CPO, biodiesel dan industri kelapa sawit setiap hari dengan bergabung di Grup Telegram "InfoSAWIT - News Update", caranya klik link InfoSAWIT-News Update, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Bisa juga IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


Atau ikuti saluran Whatsapp "InfoSAWIT News", caranya klik link InfoSAWIT News

Untuk informasi langganan dan Iklan silahkan WhatsApp ke Marketing InfoSAWIT_01 dan Marketing InfoSAWIT_02 atau email ke sawit.magazine@gmail.com