Salah satu komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi adalah kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15), yang meningkat 38,71 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Selain itu, kenaikan juga terjadi pada komoditas kopi, teh dan rempah-rempah sebesar 54,44 persen, tembakau dan rokok 43,49 persen, kayu dan produk kayu 40,91 persen, serta mesin dan peralatan mekanis sebesar 37,26 persen.
Peningkatan ekspor nonmigas juga didorong oleh melonjaknya permintaan dari sejumlah pasar utama. Uni Emirat Arab mencatat kenaikan impor produk Indonesia hingga 305,21 persen, diikuti Afrika Selatan sebesar 288,40 persen dan Belgia sebesar 117,84 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Industri Pengolahan Jadi Motor Penggerak Ekspor
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–April 2026 mencapai US$ 92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Tipis Pada Jumat (5/6), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Lesu
Kinerja tersebut ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 6,28 persen menjadi US$ 87,74 miliar. Sebaliknya, ekspor migas mengalami kontraksi 8,30 persen menjadi US$ 4,41 miliar.
Mendag menjelaskan bahwa pertumbuhan ekspor terutama berasal dari sektor industri pengolahan yang meningkat 9,78 persen secara tahunan. Beberapa produk dengan pertumbuhan tertinggi meliputi nikel dan barang daripadanya yang melonjak 63,99 persen, aluminium dan turunannya 55,30 persen, bahan kimia organik 30,86 persen, tembaga dan turunannya 25,34 persen, serta timah dan produk turunannya sebesar 24,62 persen.
“Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia,” jelasnya.
BACA JUGA: Sawit Itu Hemat Air — Lalu Kenapa Sungai Kita Makin Parah?
Sementara itu, ekspor sektor pertanian tercatat mengalami penurunan 26,27 persen dan sektor pertambangan serta lainnya turun 8,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pasar Afrika dan Timur Tengah Semakin Menjanjikan
Dari sisi tujuan ekspor, sejumlah pasar nontradisional menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Mesir mencatat peningkatan impor produk Indonesia sebesar 42,74 persen selama Januari–April 2026, disusul Spanyol 33,18 persen, Afrika Selatan 23,13 persen, Hong Kong 21,31 persen, dan Tiongkok 20,58 persen.
Selain itu, kawasan Asia Tengah seperti Uzbekistan, Tajikistan, dan Turkmenistan, serta wilayah Afrika Utara dan Afrika Selatan juga menunjukkan tren peningkatan permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
BACA JUGA: HET MINYAKITA Akan Disesuaikan, Pemerintah Tunggu Perkembangan Harga CPO
Perkembangan ini dinilai menjadi peluang strategis bagi industri nasional, termasuk sektor sawit, untuk memperluas penetrasi pasar dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir komoditas utama dunia. (T2)
