InfoSAWIT, JAKARTA – Data sains membuktikan sawit bukan tanaman paling rakus air. Tapi fakta itu tak menjelaskan mengapa desa-desa di pinggir kebun makin sering banjir dan makin cepat kekeringan. Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya.
Bayangkan dua tetangga di satu kampung. Keduanya menimba air dari sumur yang sama. Si pertama minum banyak — tetapi dari dapurnya, satu RT bisa makan kenyang. Si kedua minum hemat — tapi panennya seadanya, tak cukup untuk dibagi. Lalu, siapa yang pantas disebut rakus?
Itulah cermin perdebatan sawit dan air yang tak kunjung selesai di negeri ini. Di media sosial, sawit diadili habis-habisan: dituduh menguras sungai, mengeringkan sumur, dan membunuh musim hujan. Di kubu seberang, industri sawit balik berargumen bahwa tanamannya justru lebih irit air dibanding tanaman lain. Di antara keduanya, sains — pelan dan tanpa drama — mulai memberikan jawaban yang lebih jujur.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 3-9 Juni 2026 Naik Rp198,24 per Kg
Dari Mana Datangnya Label “Rakus Air”?
Sebelum kita menghakimi, ada baiknya kita tanya dulu: istilah “rakus air” itu sebenarnya berasal dari mana? Ternyata, tidak ada definisi resmi untuk itu. Tidak ada bab berjudul “Tanaman Rakus Air” di panduan evapotranspirasi FAO-56 karya Richard G. Allen, dan tidak pula di buku klasik fisika tanah karya Daniel Hillel. Yang ada hanyalah dua konsep ilmiah yang kerap disalahpahami oleh publik.
Konsep pertama adalah evapotranspirasi (ET) — seberapa cepat tanaman menyedot air dari tanah lalu melepaskannya ke udara lewat daun-daunnya. Konsep kedua adalah kemampuan tanah menyimpan air sebelum akhirnya habis tak bersisa. FAO merumuskannya dengan persamaan sederhana: kebutuhan air tanaman = koefisien tanaman (Kc) × ET acuan. Artinya, tanaman berdaun lebat yang tumbuh sepanjang tahun di kawasan tropis panas memang secara kodrati butuh lebih banyak air dibanding tanaman semusim.
Jenis tanah pun ikut menentukan. Lembaga Natural Resources Conservation Service (NRCS) di bawah Kementerian Pertanian Amerika (USDA) mencatat: tanah berpasir menyimpan air jauh lebih sedikit dibanding tanah liat yang kaya humus. Tanah keras dan terpadatkan lebih cepat kering karena air gagal meresap ke dalam pori-porinya.
BACA JUGA: Bareskrim Polri Selidiki Dugaan Manipulasi Data Ekspor Sawit, Kantor PT MMS Digeledah
Kesimpulannya: “rakus” bukan semata sifat pohonnya — ia adalah produk dari keseluruhan sistem: tanaman, tanah, dan iklim yang bekerja bersama-sama.
Angka Tak Bohong: Sawit Ada di Posisi Mana?
Mari kita bicara data. Penelitian menggunakan teknik sap-flux — mengukur aliran air di dalam batang tanaman secara langsung — serta pengukuran neraca air di Sumatra dan Kalimantan menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan: evapotranspirasi tahunan kebun sawit berkisar antara 1.050 hingga 1.400 mm per tahun.
Angka itu ternyata menempatkan sawit di posisi yang tidak terduga:
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode I-Juni 2026 Turun Rp150,47 per Kg
- Setara dengan hutan hujan tropis yang digantikannya.
- Lebih rendah dari hutan tanaman akasia atau bambu, yang bisa menguapkan air hingga 2.400–3.000 mm per tahun.
- Tidak lebih tinggi dari padi sawah (1.200–2.500 mm/tahun), tebu, maupun pisang yang banyak ditanam di Asia Tenggara.
FAO dan kajian jejak air (water footprint) global bahkan melangkah lebih jauh: jika diukur sebagai liter air per liter minyak yang dihasilkan, sawit adalah salah satu tanaman penghasil minyak paling efisien di dunia. Untuk memproduksi satu ton minyak, sawit butuh air jauh lebih sedikit dibanding rapeseed, bunga matahari, atau kedelai.
