Dari Soal “Rakus” ke Soal “Kita Cukup Cerdas atau Tidak?”
Bagi Indonesia, perdebatan soal sawit dan air bukan sekadar adu data antar ilmuwan. Ini soal desa yang banjir setiap Desember dan kekeringan setiap Agustus. Soal petani kecil yang sumurnya harus digali makin dalam setiap tahun. Soal sungai-sungai di Kalimantan dan Sumatra yang warnanya berubah cokelat bahkan di luar musim hujan.
Sawit bukan malaikat, tapi juga bukan satu-satunya tersangka. Padi sawah, tebu, bahkan sebagian hutan tanaman industri bisa jauh lebih boros air. Keunggulan efisiensi sawit hanya akan bermakna nyata jika ekspansinya dikendalikan, praktik agronomisnya mengikuti riset terkini dari MARDI dan MPOB, dan pengelolaan airnya benar-benar naik kelas.
Karena pertanyaan yang tepat bukan lagi “apakah sawit itu rakus air?” — melainkan “apakah kita cukup cerdas mengelola air di lanskap tempat sawit itu tumbuh?”
Jika kelak kita bisa menjawab “ya” dengan jujur, mungkin label “rakus” dan “hemat” tidak lagi relevan. Yang kita butuhkan adalah sistem pertanian yang adil terhadap air — bagi petani, bagi sungai, dan bagi generasi yang akan mewarisi bumi ini.
Penulis: Ts. Dr. Muhamad Askari / Diaspora Indonesia | Dosen Senior Fakulti Pertanian Lestari, Universiti Malaysia Sabah | Pakar Hidrologi Pertanian
Disclaimer: Artikel merupakan pendapat pribadi, sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis dan tidak ada kaitannya dengan InfoSAWIT.
