Jadi kalau tolok ukur “rakus” adalah efisiensi air per unit produk, sawit justru layak disebut “hemat”. Masalah baru mulai muncul ketika kita bergeser dari skala pohon ke skala daerah aliran sungai (DAS).
Hutan vs. Kebun: Rahasianya Ada di Cara Air Bergerak
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya — dan yang sering luput dari debat publik. Para peneliti dari Jerman dan Indonesia yang mengkaji berbagai lanskap tropis menemukan: total ET sawit dan hutan memang bisa hampir sama, tetapi cara air bergerak di dalam DAS-nya berubah secara drastis.
Hutan hujan tropis bekerja seperti spons raksasa yang cerdas:
- Tajuk lebatnya menangkap 15–25 persen curah hujan. Air tertahan di daun, lalu menguap kembali sebelum sempat menyentuh tanah — mengurangi beban air di permukaan.
- Akar pohon menembus jauh ke dalam bumi, mampu “minum” air tanah bahkan di puncak musim kemarau.
- Tanahnya gembur dan penuh pori — air meresap pelan-pelan, lalu keluar sebagai aliran dasar yang stabil dan menjaga sungai tetap mengalir sepanjang tahun.
Kebun sawit bekerja dengan cara yang berbeda:
- Tajuknya hanya menahan 8–15 persen hujan. Sisanya langsung menghantam tanah dengan tenaga penuh.
- Akar sawit relatif dangkal, terkonsentrasi di lapisan 0–1,5 meter teratas. Begitu lapisan ini kering atau memadat, sawit langsung mengalami stres.
- Alat berat dan jalan panen yang terus-menerus dilalui memadatkan tanah, membuat air makin sulit meresap dan lebih banyak yang mengalir deras di permukaan.
Akibatnya, di banyak DAS tropis terjadi pola yang sama: puncak banjir naik dan aliran di musim kering merosot setelah hutan diganti perkebunan monokultur. Bukan karena sawit “minum” lebih banyak air — melainkan karena jalan air di dalam tanah sudah berubah total.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Lagi Pada Rabu (3/6), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Jadi, Rakus atau Tidak? Jawaban Jujurnya…
Jawabannya: tidak sesederhana ya atau tidak. Secara botanikal, sawit bukanlah tanaman terboros air. Secara agronomis, efisiensinya dalam menghasilkan minyak sulit ditandingi. Tetapi ketika jutaan hektare hutan primer ditebang dan diganti kebun sawit tanpa perencanaan lanskap yang serius, dampak hidrologisnya menjadi nyata dan terasa langsung:
- Sungai makin sering meluap saat hujan deras.
- Sungai lebih cepat surut dan mengering ketika kemarau tiba.
- Sumur dangkal di desa-desa sekitar kebun makin rentan kering setiap tahun.
Lembaga seperti International Commission on Irrigation and Drainage (ICID) dan FAO sudah lama mengingatkan: menilai tanaman hanya dari satu angka ET adalah penyederhanaan yang berbahaya. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana kita merancang keseluruhan lanskap pertanian.
BACA JUGA: 2.266 Petani Sawit Swadaya di Jambi Raih Sertifikasi Ganda RSPO dan ISPO, Buka Akses Pasar Global
Langkah-langkah minimal yang bisa dimulai sekarang:
- Pertahankan koridor hutan di sepanjang tepi sungai dan kawasan resapan air.
- Kurangi pemadatan tanah dengan menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lahan.
- Kelola drainase dan air permukaan secara aktif dan terencana — bukan sekadar “buang secepatnya ke kanal”.
