InfoSAWIT, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi tidak lahir dari klaim, melainkan dari sistem yang konsisten. Target 8 persen nyatanya justru kembali memunculkan pertanyaan, mengapa model yang berhasil seperti sawit tidak dijadikan acuan bagi sektor lain?
Angka 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar target pertumbuhan, melainkan ujian arah pembangunan, bertumpu pada retorika atau pada model yang telah terbukti. Di tengah polemik swasembada pangan yang kian bising, kelapa sawit justru menawarkan pelajaran sunyi—tentang konsistensi kebijakan, investasi, dan keberanian mempercayai pasar.
Angka pertumbuhan itu terdengar seperti janji yang menggoda—sekaligus menantang. Presiden Prabowo Subianto meletakkannya di depan publik sebagai target pertumbuhan ekonomi nasional. Bagi saya, ia bukan sekadar angka ambisius yang ditulis di atas kertas kebijakan. Ia adalah garis batas, apakah Indonesia mampu melompat keluar dari jebakan pendapatan menengah, atau kembali berputar dalam lingkaran yang sama.
BACA JUGA: Urgensi RPerpres RAN-KSB 2025–2029 Kian Menguat, Jadi Kunci Reformasi Industri Sawit
Namun, pertumbuhan tidak lahir dari retorika. Ia membutuhkan mesin—lokomotif yang bukan hanya kuat, tetapi juga telah teruji di lintasan panjang. Di tengah riuh perdebatan mengenai swasembada pangan, yang bahkan berujung pada pelaporan hukum terhadap kritik publik pada April 2026 ini, kita seperti lupa bahwa Indonesia sudah memiliki satu model yang berhasil, yakni minyak sawit.
Peristiwa awal April itu terasa ganjil. Seorang analis pangan dilaporkan ke pihak berwajib hanya karena mempertanyakan selisih antara data cadangan beras versi birokrasi dan kenyataan di pasar induk. Kritik berbasis data, yang semestinya menjadi bahan evaluasi, justru diperlakukan sebagai ancaman. Di titik ini, yang tergerus bukan sekadar ruang diskusi, melainkan juga kepercayaan publik.
Padahal pertanyaan yang diajukan sederhana, mengapa klaim swasembada tidak tercermin dalam stabilitas harga di meja makan masyarakat? Di situlah kegaduhan menemukan akarnya—pada jurang antara angka di laporan dan denyut pasar yang sesungguhnya.
BACA JUGA: Total BK dan PE CPO Mei 2026 Capai US$ 309,20 per Ton, Harga Referensi Naik ke US$ 1.049,58
Dari sini, pelajaran tentang sawit menjadi relevan. Ia tidak tumbuh dari klaim, melainkan dari proses panjang budidaya dan konsistensi kebijakan. Swasembada, dalam pengertian yang paling nyata, bukanlah soal definisi, melainkan hasil dari sistem produksi yang matang dan berkelanjutan.
Selama ini, sawit kerap disederhanakan sebagai industri ekstraktif. Sebuah stigma yang, jika ditelusuri lebih jauh, tidak sepenuhnya adil. Sawit justru berdiri sebagai industri budidaya yang kompleks—menganyam kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam satu ekosistem yang relatif utuh. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto, serta keterlibatan 16,5 juta keluarga petani, menjadikannya bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi.
Data industri memperlihatkan ketangguhan itu dengan terang. Produksi minyak sawit nasional pada 2026 diproyeksikan mencapai kisaran 57 juta ton crude palm oil (CPO). Angka ini bukan hanya soal volume, tetapi juga tentang arah, bagaimana sawit menjadi penyangga ketahanan energi melalui mandatori B40 yang bergerak menuju B50. Konsumsi domestik meningkat, impor solar ditekan, dan pada saat yang sama devisa tetap mengalir, ditopang harga global di sekitar US$ 1.100 per ton.
Di tengah kalkulasi yang lebih luas, satu hal menjadi jelas: pertumbuhan 8 persen tidak mungkin disangga oleh APBN semata. Ia memerlukan dorongan investasi swasta yang besar dan berkelanjutan. Sawit telah membuktikan bahwa ketika kebijakan memberi ruang, sektor swasta mampu membangun ekosistem dari hulu hingga hilir secara organik.
Perbandingan dengan komoditas lain menjadi cermin yang jujur. Karet dan kelapa pernah berada di puncak kejayaannya, sebelum akhirnya meredup, tersapu disrupsi kebijakan yang tak konsisten. Sawit bertahan karena struktur pasarnya kompetitif, dan karena swasta tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan mitra strategis.
Di titik ini, pertanyaan yang lebih besar muncul, jika model ini ingin direplikasi pada sektor pangan lain, apakah fondasinya sudah siap?
