InfoSAWIT, PALEMBANG – Di banyak buku sejarah perkebunan Indonesia, kisah sawit hampir selalu bermula dari Tanah Deli. Dari sanalah industri kelapa sawit komersial disebut lahir, tumbuh, lalu menjelma menjadi raksasa ekonomi yang hari ini membuat Indonesia menguasai 57,49 persen produksi minyak sawit dunia. Nama Deli terlanjur identik dengan sawit: subur, besar, dan berjaya.
Namun sejarah, seperti biasa, sering memilih siapa yang dikenang dan siapa yang perlahan hilang dari ingatan.
Jauh sebelum hamparan sawit membentuk lanskap ekonomi Sumatera Utara, ada tanah lain yang diam-diam menyimpan jejak awal pertumbuhan tanaman itu. Tanah yang tak banyak disebut dalam narasi besar industri sawit nasional, Palembang.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik Pada Senin (18/5), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia menguat
Di kota tua tepian Musi itu, benih-benih sawit pernah diuji, ditanam, dan tumbuh. Sebuah percobaan kecil yang nyaris terlupakan, tetapi kelak menjadi bagian penting dari perjalanan panjang sawit Indonesia.
Tahun ini, Indonesia memasuki usia 115 tahun perkebunan sawit komersial. Penanda sejarah itu dihitung sejak pembukaan perkebunan pertama di Tanah Deli pada 1911. Namun bila ditarik lebih jauh ke belakang, kisah sawit Indonesia sebenarnya dimulai puluhan tahun sebelumnya.
Pada 1848, seorang Belanda bernama Dr. Pryce membawa empat benih kelapa sawit dari Afrika Barat ke Hindia Belanda. Benih itu ditanam di Kebun Raya Bogor sekadar sebagai koleksi botani. Tak ada yang benar-benar menduga tanaman itu kelak berubah menjadi penyangga ekonomi nasional. Presiden Prabowo Subianto bahkan pernah menyebut sawit sebagai miracle crop—tanaman ajaib.
BACA JUGA: 307 Petani Sawit Swadaya di Langkat Peroleh STDB Perdana, Perkuat Traceability dan ISPO
Dari Bogor, benih-benih itu lalu disebarkan ke berbagai wilayah untuk percobaan budidaya. Sejarah kemudian lebih banyak menyorot Deli sebagai titik penting perkembangan sawit. Di sanalah industri itu akhirnya berkembang pesat dengan dukungan modal, teknologi, dan kepentingan kolonial.
Tetapi catatan lama menunjukkan cerita lain yang jarang dibuka kembali.
Sekitar tahun 1858, benih sawit dari Bogor ditanam di wilayah Karesidenan Palembang, di lahan sekitar 1,2 hektare. Catatan Van Heurn pada 1948 menyebut hasil percobaan itu cukup menjanjikan. Pohon sawit mulai berbuah pada tahun keempat dengan tinggi batang sekitar 1,5 meter—lebih cepat dibanding habitat asalnya di Afrika Barat.
BACA JUGA: PT MM Diduga Langgar Aturan Lingkungan dan Sempadan Sungai, Polda Riau Tetapkan Tersangka
Percobaan tersebut tidak berhenti di Palembang. Penanaman kemudian meluas ke Muara Enim hingga Ulu Musi dalam rentang 1859 hingga 1864.
Artinya, Palembang dan Sumatera Selatan bukan sekadar wilayah penghasil sawit hari ini. Daerah ini sesungguhnya menyimpan akar historis industri sawit Indonesia.
Hanya saja, sejarah memilih Deli sebagai panggung utama.
