Di sana, sawit tumbuh menjadi industri modern. Perkebunan komersial pertama dibuka di Sei Liput dan Tanah Raja—wilayah yang kini masuk Sumatera Utara dan Aceh. Dari titik itu, sawit berkembang menjadi kekuatan ekonomi besar yang menopang Indonesia hingga sekarang.
Sementara Palembang perlahan tertinggal di halaman belakang sejarah.
Padahal, bila melihat kondisi hari ini, Sumatera Selatan memiliki modal besar untuk menghidupkan kembali narasi itu. Bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan fondasi untuk membangun masa depan.
BACA JUGA: Ketika Ekonomi Cina Melambat, Sawit Justru Menemukan Ruangnya
Data 2024 mencatat provinsi ini memiliki sekitar 1,5 juta hektare kebun sawit dari total 16,4 juta hektare perkebunan sawit nasional. Hamparan itu dimiliki petani rakyat, perusahaan swasta, hingga BUMN. Sawit tak lagi hanya soal industri besar. Ia telah menjadi denyut ekonomi masyarakat.
Dari kebun-kebun itu hidup jutaan pekerja, petani, buruh tani, pedagang kecil, sopir angkutan, hingga pelaku usaha informal lain yang bergerak di sekitar rantai ekonomi sawit. Sawit menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di berbagai wilayah Sumatera Selatan.
Tak berlebihan bila ada ungkapan, isi dompet wong kito hari ini turut membawa aroma sawit.
BACA JUGA: GAPKI Gaungkan “Total Safe, Total Health, Total Prosper” untuk Pekerja Perempuan Sawit
Perjalanan panjang sawit di Sumatera Selatan juga melahirkan inovasi penting. Dari daerah ini lahir sejumlah benih unggul yang dikenal luas di industri sawit nasional.
Ada D x P Sriwijaya, benih hasil pengembangan PT Bina Sawit Makmur, POSCO International Group, yang lahir dari ketekunan para peneliti Indonesia dan sentuhan tangan Dr. Dwi Asmono. Nama Sriwijaya yang melekat padanya bukan sekadar identitas geografis, tetapi simbol kejayaan dan kemasyhuran.
Ada pula D x P Tania Selatan yang diproduksi Wilmar Plantation Group. Dalam satu kesempatan, saya bahkan pernah mengusulkan tambahan nama “Sriwijaya” di belakangnya—semata untuk memperkuat identitas dan kebanggaan daerah.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumsel Periode II-Mei 2026 Tertinggi Rp3.886,11 per Kg
Namun masa depan sawit tak cukup hanya dibangun dari produktivitas dan inovasi benih.
Industri ini juga dituntut menjawab tantangan keberlanjutan.
Sebagai bagian dari GAPKI dan APINDO Sumatera Selatan, saya mencoba mendorong sejumlah inisiatif yang berangkat dari kesadaran itu. Pada 2020, bersama Bupati Musi Banyuasin saat itu, Dodi Reza Alex, kami mendeklarasikan Muba Sustainable Palm Oil Initiatives (MSPOI). Salah satu fokusnya adalah membangun pendekatan perlindungan sosial ketenagakerjaan bagi petani sawit.
