InfoSAWIT, MUMBAI – Impor minyak sawit India pada April 2026 tercatat mengalami penurunan tajam sebesar 26 persen menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir. Kondisi ini dipicu lemahnya permintaan dari sektor industri makanan serta kenaikan harga minyak sawit yang mengurangi daya saingnya dibanding minyak nabati lain.
Dilansir InfoSAWIT dari Brecorder, Senin (18/5/2026), asosiasi perdagangan minyak nabati Solvent Extractors’ Association of India menyebutkan impor minyak sawit India pada April hanya mencapai 513.403 ton metrik, turun dibandingkan Maret yang mencapai 689.462 ton. Angka tersebut menjadi level impor terendah sejak Desember 2025.
Penurunan impor dari negara konsumen minyak nabati terbesar dunia itu diperkirakan dapat meningkatkan stok minyak sawit di negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia, sekaligus memberi tekanan terhadap harga kontrak berjangka CPO Malaysia.
BACA JUGA: Malaysia Resmi Terapkan Biodiesel B15 Mulai Juni 2026, Dorong Serapan CPO Domestik
Di sisi lain, impor minyak kedelai India justru meningkat 25 persen menjadi 360.350 ton, tertinggi dalam empat bulan terakhir. Sementara impor minyak bunga matahari melonjak sekitar 121 persen menjadi 434.240 ton, tertinggi dalam 22 bulan.
Secara keseluruhan, total impor minyak nabati India naik 10 persen menjadi 1,31 juta ton, didorong tingginya pembelian minyak kedelai dan minyak bunga matahari.
India selama ini mengimpor sebagian besar minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Adapun minyak kedelai serta minyak bunga matahari dipasok terutama dari Argentina, Brazil, Russia, dan Ukraine.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Kaltim Periode I-Mei 2026 Naik Rp74,63 per Kg
Seorang pelaku perdagangan di Mumbai dari perusahaan dagang global mengungkapkan bahwa banyak perusahaan penyulingan masih menunggu koreksi harga minyak sawit sebelum melakukan pembelian dalam jumlah besar. Saat ini margin pengolahan dinilai masih negatif sehingga pembelian cenderung ditahan.
Selain faktor harga, konsumsi minyak sawit India juga terdampak krisis gas memasak yang melanda negara tersebut. Kelangkaan gas terutama dirasakan sektor restoran dan rumah makan yang selama ini menjadi konsumen utama minyak sawit untuk kebutuhan menggoreng makanan.
Berbagai makanan populer India seperti samosa dan chole bhature umumnya dimasak menggunakan metode deep-fried yang membutuhkan konsumsi minyak cukup besar.
India, yang merupakan importir gas memasak terbesar kedua di dunia, saat ini menghadapi krisis gas terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Pemerintah India dilaporkan mengurangi pasokan gas untuk sektor industri dan menaikkan harga tabung gas komersial guna menjaga pasokan rumah tangga tetap aman. (T2)
