InfoSAWIT, BOGOR – Tudingan bahwa kelapa sawit merupakan tanaman boros air dan menjadi penyebab utama banjir dinilai perlu diluruskan. Guru Besar IPB University, Prof Hendrayanto, menegaskan bahwa persoalan banjir, longsor, hingga kekeringan lebih erat kaitannya dengan degradasi ekosistem, perubahan tata guna lahan, dan anomali iklim, bukan semata-mata karena keberadaan perkebunan sawit.
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada Sabtu (25/4) lalu, Hendrayanto memaparkan hasil kajian hidrologi yang meneliti karakteristik penggunaan air pada tanaman kelapa sawit serta respons hidrologi di kawasan perkebunan sawit. Menurutnya, hasil penelitian tersebut penting disampaikan untuk meluruskan persepsi yang selama ini berkembang di masyarakat.
“Hasil penelitian ini menarik untuk disampaikan, karena sawit selama ini kerap menjadi pihak yang disalahkan dalam berbagai persoalan lingkungan,” ungkap Hendrayanto dilansir InfoSAWIT dari IPB University, Minggu (3/5/2026).
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Withdraw Kamis (30/4), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Ditutup Melemah
Laju Transpirasi Sawit Setara dengan Tanaman Lain
Berdasarkan kajian ilmiah melalui pendekatan pengukuran transpirasi dan evapotranspirasi, ditemukan bahwa laju penggunaan air pada tanaman kelapa sawit relatif sebanding dengan berbagai jenis tanaman kehutanan maupun perkebunan lainnya.
Ia menjelaskan, tingkat transpirasi kelapa sawit tidak berbeda signifikan dibandingkan tanaman seperti karet, mahoni, maupun akasia. Dengan demikian, anggapan bahwa sawit menyerap air secara berlebihan dinilai tidak didukung oleh data ilmiah.
“Tanaman kelapa sawit tidak boros air karena laju transpirasinya sebanding dengan tanaman lain seperti karet, mahoni, dan akasia,” ungkap Hendrayanto.
BACA JUGA: SSMS Tebar Dividen Rp800 Miliar, Perkuat Tata Kelola Berkelanjutan Sambut Prospek Sawit 2026
Tak hanya pada skala tanaman, penelitian juga menunjukkan bahwa respons hidrologi daerah tangkapan air (DTA) yang didominasi kebun sawit tidak menunjukkan kondisi yang lebih buruk dibandingkan kawasan DTA yang didominasi tanaman karet.
Degradasi Hutan dan Tata Guna Lahan Jadi Faktor Utama
Menurut Hendrayanto, akar persoalan lingkungan justru terletak pada perubahan bentang alam akibat konversi dan degradasi hutan hujan tropis. Transformasi kawasan hutan menjadi berbagai bentuk penggunaan lahan—baik perkebunan, permukiman, maupun kawasan monokultur lainnya—berpotensi mengubah siklus hidrologi secara signifikan.
Eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, lemahnya pengelolaan tata ruang, serta pengaruh anomali iklim global disebut sebagai faktor yang memperbesar frekuensi bencana hidrometeorologis seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan.
BACA JUGA: Grant Riset BPDP 2026 Dibuka, BPDP Tekankan Dampak Nyata dan Seleksi Administratif yang Ketat
Meski demikian, ia mengakui industri kelapa sawit memiliki kontribusi ekonomi besar, terutama dalam menyerap tenaga kerja dan menjadi salah satu sumber devisa nasional. Karena itu, pembahasan mengenai dampak lingkungan sawit perlu ditempatkan dalam konteks pengelolaan lanskap secara menyeluruh, bukan dengan menyederhanakan persoalan pada satu komoditas.
Hendrayanto menilai pendekatan paling relevan untuk menekan risiko degradasi lingkungan adalah melalui pengelolaan lanskap yang terintegrasi, penataan pola ruang berbasis daerah aliran sungai (DAS), serta penerapan praktik pengelolaan terbaik dalam pemanfaatan sumber daya alam.
Dengan pendekatan tersebut, keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologis dinilai dapat dijaga secara lebih berkelanjutan, termasuk di wilayah-wilayah pengembangan perkebunan kelapa sawit. (T2)
