InfoSAWIT, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan bahwa arah riset kelapa sawit ke depan harus menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan. Penelitian dinilai tidak cukup hanya berakhir sebagai publikasi ilmiah, tetapi harus mampu menjawab berbagai tantangan nyata yang dihadapi industri sawit nasional.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui penandatanganan Komitmen Bersama antara Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan GAPKI dalam mendukung Program Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Perkebunan melalui Beasiswa Kelapa Sawit. Kesepakatan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dalam mencetak SDM unggul sekaligus mempercepat lahirnya inovasi berbasis riset.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan industri kelapa sawit membutuhkan penelitian yang mampu menghasilkan solusi praktis terhadap berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha maupun petani.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode 22-28 Juli 2026 Naik Rp13,25 per Kg
Menurutnya, riset terapan akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri sawit Indonesia sekaligus mendukung pengembangan sektor yang semakin berkelanjutan.
“Industri kelapa sawit membutuhkan riset yang mampu memberikan solusi nyata terhadap berbagai tantangan yang dihadapi,” ujar Eddy, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Rabu (22/7/2026).
Ia mencontohkan persoalan serangan jamur Ganoderma sebagai salah satu tantangan serius yang membutuhkan perhatian dunia riset. Penyakit tersebut menyebabkan kematian tanaman kelapa sawit dan kini mulai ditemukan pada tanaman hasil peremajaan generasi awal.
Karena itu, Eddy menilai pengembangan teknologi deteksi dini hingga metode pengendalian yang lebih efektif menjadi kebutuhan mendesak bagi perusahaan maupun petani sawit.
Selain itu, GAPKI juga mendorong perguruan tinggi agar menyusun agenda penelitian yang lebih selaras dengan kebutuhan industri. Dengan memahami persoalan di lapangan sejak awal, hasil penelitian mahasiswa maupun akademisi diharapkan tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor perkebunan.
“Mahasiswa dan peneliti perlu melihat kebutuhan industri terlebih dahulu. Kalau memahami persoalan yang dihadapi di lapangan, maka riset yang dihasilkan akan lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat yang nyata,” katanya.
BACA JUGA: Heru Tri Widarto: Program B50 Jadi Momentum Tingkatkan Produktivitas Sawit Nasional
Dalam Nota Kesepahaman tersebut, GAPKI mengambil peran sebagai penghubung antara dunia pendidikan dan industri melalui perusahaan-perusahaan anggotanya. Dukungan yang diberikan meliputi penyediaan lokasi magang, pelaksanaan praktik kerja lapangan (PKL), hingga masukan dalam pengembangan kurikulum agar lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Sementara itu, BPDP mencatat Program Grant Riset Sawit yang berjalan sejak 2015 telah mendukung 466 kontrak penelitian yang melibatkan 109 lembaga penelitian, 1.873 peneliti, dan 383 mahasiswa. Dari program tersebut telah dihasilkan 395 publikasi ilmiah dan 84 paten.
Pada 2026, BPDP kembali menandatangani 56 kontrak riset baru yang mencakup berbagai bidang, mulai dari budidaya, bioenergi, oleokimia, biomaterial, lingkungan, sosial ekonomi, teknologi informasi, hingga kajian pengembangan kelapa nasional dan kesiapan implementasi biodiesel B50.
