InfoSAWIT, JAKARTA – Persoalan lain yang tak kalah penting adalah posisi petani dalam rantai nilai pertanian. Diungkapkan Katryn Pasaribu, Direktur Riset Kaleka, kerap kali petani selaku pemasok bahan baku dalam rantai nilai yang bergerak dari desa—menuju pabrik, pedagang besar, hingga pasar akhir. Di sepanjang rantai itulah nilai ekonomi bertambah, tetapi sebagian besar keuntungan tidak pernah kembali ke petani.
Nyatanya persoalan ini bukan hanya soal harga komoditas yang fluktuatif, melainkan tentang bagaimana sistem produksi dan pengolahan dirancang sejak awal. “Petani sering hanya berada di tahap paling awal dari rantai nilai,” katanya dalam sebuah acara webinar dihadiri InfoSAWIT, belum lama ini.
Padahal, menurut Katryn, jika petani dapat mengakses proses pengolahan awal—seperti pengeringan, distilasi, atau pemrosesan pascapanen—nilai tambah yang dihasilkan bisa jauh lebih besar.
Dalam banyak komoditas, selisih nilai antara bahan mentah dan produk setengah jadi bisa sangat signifikan. Biji kopi, misalnya. Ketika dijual sebagai bahan mentah, nilainya relatif rendah. Namun setelah melalui proses pengeringan, sortasi, dan pengolahan tertentu, harganya dapat meningkat tajam sebelum akhirnya dipasarkan ke industri hilir.
BACA JUGA: Mengubah Cara Bertani, Kisah Pertanian Regeneratif dari Desa
Hal serupa juga terjadi pada berbagai komoditas agroforestri lainnya.
Karena itu, salah satu pendekatan yang kini mulai dikembangkan adalah membangun fasilitas pengolahan di tingkat komunitas—mulai dari unit pengeringan hingga pengolahan sederhana.
Tujuannya sederhana, agar petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga produk setengah jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Dalam model ini, petani dapat menyerap sebagian nilai tambah yang sebelumnya diambil oleh perantara atau agregator.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode III-Juli 2026 Naik Rp46,94 per Kg
“Intinya adalah manufaktur skala awal,” ujar Katryn. “Produk belum sampai ke barang jadi, tetapi sudah mendekati tahap akhir.”
Dengan cara itu, rantai nilai menjadi lebih pendek dan lebih adil bagi produsen di tingkat desa.
Agroforestri dan Pertanian Regeneratif
Pendekatan ini juga berkaitan erat dengan gagasan agroforestri dan pertanian regeneratif.
Dalam sistem agroforestri, berbagai jenis tanaman ditanam bersama dalam satu lanskap—mulai dari tanaman pangan hingga pohon bernilai ekonomi tinggi. Sistem ini tidak hanya meningkatkan keanekaragaman hayati, tetapi juga membantu menjaga kesuburan tanah dan keseimbangan ekosistem.
Jika dipadukan dengan prinsip pertanian regeneratif, sistem tersebut dapat memperbaiki kesehatan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas jangka panjang.
Menurut Katryn, model ini berpotensi menghasilkan komoditas bernilai tinggi tanpa harus merusak ekosistem. “Agroforestri regeneratif bisa menghasilkan produk bernilai ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” katanya.
