Keterkaitan dengan Agenda Nasional
Dalam konteks kebijakan nasional, pendekatan ini sebenarnya sejalan dengan prioritas pembangunan pemerintah.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, salah satu prioritas utama adalah penguatan ketahanan pangan, air, dan energi. Bagi Katryn, pendekatan agroforestri dan pertanian regeneratif memiliki irisan langsung dengan agenda tersebut.
Sistem pertanian yang memperhatikan kesehatan tanah dan keberlanjutan ekosistem dapat membantu menjaga ketersediaan air, meningkatkan ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
BACA JUGA: SNV Impact Forum 2026: Solusi Regenerative Agriculture Bagi Keberlanjutan
Namun untuk mewujudkan hal itu, diperlukan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, komunitas petani, dan berbagai organisasi yang bergerak di bidang pertanian berkelanjutan.
Menurut Katryn, perubahan menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Program pemerintah memerlukan contoh implementasi di lapangan, sementara komunitas yang menerapkan praktik regeneratif juga membutuhkan dukungan kebijakan. “Harus ada hubungan yang saling mendukung,” ujarnya.
Jika pemerintah memberikan dukungan kebijakan dan fasilitas bagi praktik agroforestri regeneratif, maka inisiatif di tingkat petani dapat berkembang lebih cepat. Sebaliknya, keberhasilan praktik di lapangan juga dapat membantu pemerintah mencapai target pembangunan yang telah ditetapkan.
BACA JUGA: Mandatori Biodiesel B50 Butuh Kehati-Hatian
Di sinilah pentingnya membangun hubungan yang saling menguatkan—sebuah simbiosis antara kebijakan dan praktik.
Di balik gagasan tentang fasilitas pengolahan, agroforestri, dan pertanian regeneratif, sebenarnya ada satu tujuan sederhana, mengembalikan sebagian kendali ekonomi kepada petani.
Ketika petani mampu mengolah sebagian hasil panennya sendiri, mereka tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah. Mereka menjadi bagian aktif dari rantai nilai yang lebih panjang.
BACA JUGA: Membangun Pertanian Regeneratif di Perkebunan Kelapa Sawit
Perubahan itu mungkin terlihat kecil—sekadar unit pengeringan, fasilitas distilasi, atau pengolahan sederhana di desa. Namun dari sanalah peluang baru muncul, harga yang lebih baik, pendapatan yang lebih stabil, dan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan.
Ungkap Katryn, masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak komoditas yang dihasilkan. Ia juga ditentukan oleh seberapa besar nilai yang dapat tetap tinggal di tangan petani. (T2)
