InfoSAWIT, JAKARTA – Gejolak konflik di Timur Tengah pada awal 2026 kembali menunjukkan betapa industri sawit sangat dipengaruhi dinamika geopolitik dunia. Ketika eskalasi meningkat di kawasan tersebut, dampaknya tidak berhenti pada pasar energi global, tetapi merambat hingga ke perdagangan crude palm oil (CPO) di dalam negeri.
Harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives sempat melonjak hingga RM4.631 per ton pada akhir Maret 2026. Di pasar domestik, harga referensi KPBN bahkan menembus Rp16.275 per kilogram, menjadi salah satu level tertinggi tahun ini. Kenaikan tersebut bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan respons pasar terhadap tekanan global pada sektor energi dan logistik.
Ancaman terhadap Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak mentah dunia langsung mengerek harga energi internasional. Efeknya terasa cepat. Harga solar naik, biaya operasional industri membengkak, dan biodiesel berbasis sawit kembali menjadi alternatif yang kompetitif.
BACA JUGA: HR CPO Juni 2026 Turun Jadi US$ 1.029,51 per MT, BK CPO US$ 148 per MT dan PE sebesar 12,5 persen
Pada saat yang sama, gangguan keamanan di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb memaksa kapal-kapal dagang mengubah jalur pelayaran. Konsekuensinya tidak ringan. Ongkos pengiriman melonjak, premi asuransi meningkat, dan rantai distribusi global bergerak dalam tekanan biaya yang semakin besar.
Meski demikian, pasar sawit global sesungguhnya sedang memasuki fase keseimbangan baru. Produksi dunia masih tumbuh, tetapi tidak lagi melesat seperti beberapa tahun sebelumnya. Malaysia diperkirakan memproduksi sekitar 19,7 juta ton CPO pada 2026, tetap tinggi namun tanpa lonjakan signifikan.
Sementara Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan melalui ekspansi areal baru dan program peremajaan sawit rakyat. Tambahan produksi memang tidak spektakuler, tetapi cukup menegaskan bahwa pasokan global masih terus bertambah.
BACA JUGA: Kementan Ancam Cabut Izin Pabrik Sawit yang Beli TBS Sawit di Bawah Harga Acuan
Di titik inilah pasar mulai bergeser. Persoalan utama bukan lagi sekadar produksi, melainkan bagaimana pasar menyerap stok yang terus membesar. Rubrik Fokus edisi kali ini membahas lebih dalam perubahan arah pasar tersebut. (T2)
