InfoSAWIT, MEDAN – Praktik tumpang sari kelapa sawit dengan tanaman lain seperti karet dinilai berisiko menurunkan produktivitas, terutama jika tidak dikelola dengan tepat. Hal ini disebabkan karakter tanaman kelapa sawit yang sangat membutuhkan paparan sinar matahari optimal untuk tumbuh dan berproduksi maksimal.
Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Djan Muhayat, mengungkapkan bahwa masih banyak petani yang belum memahami tujuan utama dalam budidaya kelapa sawit.
Menurutnya, kelapa sawit merupakan tanaman yang sangat menyukai sinar matahari. Ketika tanaman ini ditanam berdampingan dengan tanaman lain seperti karet yang masih aktif disadap, maka kanopi karet dapat menghalangi masuknya cahaya matahari yang dibutuhkan sawit.
“Jika kelapa sawit kekurangan sinar matahari, pertumbuhannya akan terganggu. Salah satu indikasinya adalah munculnya bunga jantan yang dominan dan pertumbuhan tanaman yang memanjang (etiolasi),” jelasnya dilansir InfoSAWIT dari PPKS TV, Minggu (19/4/2026).
Ia mencontohkan kondisi tanaman sawit berumur tiga tahun yang ditanam bersama karet. Meskipun memiliki jumlah pelepah cukup banyak, tanaman tersebut tidak menghasilkan buah optimal karena terhambat oleh kurangnya cahaya.
Djan menegaskan bahwa praktik tumpang sari tanpa pengelolaan yang tepat justru akan merugikan petani. Produksi getah karet tidak maksimal, sementara produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit juga terhambat.
BACA JUGA: Badan Sawit Dinilai Jadi Game Changer Tata Kelola Sawit Nasional, Dorong Integrasi Hulu-Hilir
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kedua komoditas tidak memberikan hasil optimal secara ekonomi.
“Jika kondisi ini dibiarkan hingga dua sampai tiga tahun tanpa pengurangan populasi karet, maka kerugian akan semakin besar karena kedua tanaman tidak berproduksi secara maksimal,” ujarnya.
Perlu Penataan dan Perawatan Intensif
Untuk mengatasi kondisi tersebut, petani disarankan segera melakukan penataan ulang kebun, termasuk menebang tanaman karet yang menghambat pertumbuhan sawit.
BACA JUGA: Model Bisnis Bioenergi Sawit yang Realistis di Indonesia
Selain itu, perawatan intensif seperti pemupukan dan pemeliharaan tanaman juga diperlukan untuk memulihkan kondisi pertumbuhan sawit yang mengalami etiolasi.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan ruang tajuk terbuka agar sinar matahari dapat masuk secara optimal ke tanaman sawit.
“Kelapa sawit membutuhkan sinar matahari penuh. Jika bagian atas tanaman tertutup oleh kanopi tanaman lain, maka ini akan berdampak langsung terhadap produktivitas,” tambahnya.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Gandeng KPBN, Perkuat Strategi Pemasaran CPO Nasional
Dengan pemahaman yang tepat dan pengelolaan kebun yang optimal, diharapkan petani dapat meningkatkan produktivitas sawit sekaligus menghindari kerugian akibat praktik budidaya yang kurang tepat. (T2)
