InfoSAWIT, JAKARTA – Perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat menjadi tantangan sekaligus peluang bagi sumber daya manusia (SDM) di industri kelapa sawit. Digitalisasi, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), drone, hingga otomasi kini tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi standar baru dalam operasional industri.
Hal tersebut disampaikan Ketua Bidang Perkebunan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), R Azis Hidayat, dalam Konferensi Pers Forum 4th Technology and Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026 yang dihadiri InfoSAWIT.
Azis menegaskan, pelaku industri maupun tenaga kerja yang tidak mengikuti perkembangan teknologi berpotensi tertinggal di tengah perubahan yang berlangsung cepat.
BACA JUGA: TPOMI 2026 Jadi Momentum Transformasi Teknologi dan Talenta Industri Sawit
Menurut dia, industri sawit saat ini menghadapi persaingan global yang semakin ketat, sehingga kebutuhan terhadap SDM berkualitas dan berdaya saing tinggi menjadi semakin mendesak.
“Industri sawit bersaing di pasar global. Karena itu SDM harus memiliki kompetensi tinggi untuk mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain,” ujar Azis.
Ia menilai, dunia industri kini lebih menghargai kompetensi nyata dibanding sekadar penguasaan teori. Kemampuan menyelesaikan persoalan, pengalaman praktis, serta kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam penilaian tenaga kerja.
BACA JUGA: Petani Sawit Soroti Rencana Ekspor Satu Pintu, Minta Pemerintah Jaga Harga TBS dan Libatkan Pekebun
Lebih lanjut, Azis menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda dalam memasuki dunia kerja. Menurutnya, industri membutuhkan lebih dari sekadar ijazah.
“Industri mencari SDM yang memiliki skill, attitude, dan kemampuan adaptasi,” jelasnya.
Azis mengungkapkan masih terdapat kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Kurikulum pendidikan dinilai belum selalu selaras dengan kebutuhan lapangan, sementara porsi praktik dan pengalaman industri masih terbatas.
BACA JUGA: Kemenperin Dorong Teknologi Dry Process untuk Tingkatkan Efisiensi Industri Minyak Sawit
Akibatnya, banyak lulusan yang dinilai belum siap kerja karena kurang pengalaman praktis, lemahnya soft skill, serta mental kerja dan disiplin yang masih perlu ditingkatkan.
Ia menjelaskan, apa yang diperoleh di kampus seperti tugas, nilai, dan ijazah sering kali belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan industri yang lebih menitikberatkan pada kompetensi nyata, pengalaman praktis, kemampuan problem solving, kolaborasi, dan adaptasi.
Karena itu, Azis mengajak generasi muda untuk bangkit dan mempersiapkan diri menghadapi transformasi industri sawit yang terus berkembang.
BACA JUGA: Drama Tata Niaga Sawit Nasional, GAPPKES MIKEMINDO Desak Pemerintah Investigasi Anjloknya Harga TBS
“Terus belajar sepanjang hayat, kuasai teknologi dan keterampilan, bangun sikap, etika, serta karakter, dan siap beradaptasi menghadapi perubahan,” tegasnya.
Menurut Azis, kesiapan generasi muda untuk bersaing, beradaptasi, dan berkarya akan menjadi kunci bagi keberlanjutan dan daya saing industri sawit Indonesia di masa mendatang. (T2)
