InfoSAWIT, SABAH – Peran focal point berbasis komunitas dinilai menjadi elemen kunci dalam upaya penanganan pekerja anak di sektor perkebunan kelapa sawit, khususnya di wilayah Sabah, Malaysia, yang memiliki banyak pekerja migran beserta keluarganya.
Aiza Sunarto, Child Rights Community Focal Point dari The Centre for Child Rights and Business, mengungkapkan bahwa pendekatan berbasis komunitas memungkinkan proses identifikasi dan penanganan kasus dilakukan lebih cepat dan efektif.
Ia menjelaskan bahwa latar belakangnya sebagai bagian dari komunitas pekerja migran di Sabah memberikan kepercayaan lebih dari masyarakat dalam menyampaikan berbagai permasalahan, termasuk kasus anak yang tidak bersekolah hingga pekerja anak.
BACA JUGA: Pusat Aksi Hak Anak Diluncurkan untuk Atasi Pekerja Anak di Rantai Pasok Sawit
“Saya lahir dan besar di Sabah dalam keluarga migran, sehingga memahami langsung tantangan yang dihadapi komunitas ini. Kedekatan ini membuat masyarakat lebih percaya untuk melapor dan meminta bantuan,” ujarnya, dalam sebuah webinar dihadiri InfoSAWIT, pada Rabu, (15 April 2026).
Sebelum menjalankan perannya saat ini, Aiza juga aktif sebagai relawan pendidikan bagi anak-anak migran Indonesia, yang memberinya pemahaman mendalam terhadap kondisi sosial di lapangan.
Jadi Penghubung Utama di Komunitas
Dalam praktiknya, Aiza berperan sebagai penghubung utama antara komunitas dan tim Action Hub. Ia menerima laporan langsung dari masyarakat, termasuk dari guru maupun keluarga, terkait anak-anak yang putus sekolah atau menghadapi masalah sosial lainnya.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode 15 – 21 April 2026 Turun Rp12,14 per Kg
“Jika ada anak yang tidak bersekolah atau kasus putus sekolah, biasanya guru atau keluarga langsung menghubungi saya,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan focal point yang tinggal dan tumbuh bersama komunitas menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan. Hal ini juga mempermudah proses deteksi dini terhadap potensi pekerja anak di tingkat rumah tangga maupun perkebunan.
Pendampingan hingga Remediasi
Setiap kasus yang diterima akan diidentifikasi dan dilaporkan kepada tim Action Hub untuk kemudian dilakukan penilaian cepat (rapid assessment). Selanjutnya, tim bersama keluarga menyusun rencana dukungan yang berkelanjutan.
BACA JUGA: Pakar Ingatkan, Tumpang Sari Sawit dengan Karet Bisa Turunkan Produktivitas
Pendampingan yang diberikan mencakup bantuan biaya hidup, pengembalian anak ke sekolah, pelatihan literasi dan keterampilan, hingga dukungan usaha kecil bagi keluarga, seperti membantu orang tua tunggal membangun sumber pendapatan.
Dalam beberapa kasus, anak-anak juga dimasukkan ke dalam program remediasi selama beberapa bulan untuk memastikan mereka dapat kembali ke lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan mereka.
Aiza menilai masih banyak kasus terkait anak di berbagai wilayah yang memerlukan penanganan serupa. Oleh karena itu, ia berharap jumlah focal point komunitas dapat terus ditingkatkan.
BACA JUGA: Badan Sawit Dinilai Jadi Game Changer Tata Kelola Sawit Nasional, Dorong Integrasi Hulu-Hilir
“Dengan adanya Action Hub, saya kini tahu bagaimana melaporkan, menangani, dan mendampingi kasus dengan lebih terstruktur. Harapannya, semakin banyak anak dan keluarga yang bisa mendapatkan bantuan,” tutupnya. (T2)
