InfoSAWIT, KUCHING – Emisi karbon dioksida (CO₂) dari tanah meningkat secara signifikan pada tiga tahun pertama setelah lahan gambut dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Namun, emisi tersebut mulai menurun memasuki tahun keempat dan kelima seiring perubahan kondisi tanah, pengelolaan muka air, serta perkembangan tajuk tanaman.
Temuan tersebut terungkap dalam penelitian berjudul “Evaluating soil CO₂ fluxes during the transition from peat swamp forest to an oil palm plantation” yang dilakukan Nur Azima Busman dan sejumlah peneliti dari Sarawak Tropical Peat Research Institute, Malaysia, bersama peneliti dari Nagoya University, Jepang. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment dan diterima pada 10 Agustus 2026.
Dilansir InfoSAWIT dari penelitian tersebut, pengukuran dilakukan secara bulanan selama lebih dari tujuh tahun, mulai Januari 2016 hingga April 2023, pada satu lokasi di Divisi Betong, Sarawak, Malaysia. Pengamatan mencakup tiga tahapan perubahan penggunaan lahan, yakni hutan rawa gambut, persiapan lahan, dan perkebunan kelapa sawit.
BACA JUGA: Mendag Dorong Hilirisasi dan Keberlanjutan Industri Sawit untuk Perkuat Daya Saing Global
Emisi Tertinggi pada Tiga Tahun Awal
Penelitian menunjukkan emisi CO₂ tanah di hutan rawa gambut berada pada kisaran 1.402–1.430 gram karbon per meter persegi per tahun (g C/m²/tahun).
Saat memasuki tahap persiapan lahan, emisi meningkat menjadi sekitar 1.768–2.135 g C/m²/tahun. Namun, kenaikan tersebut belum berbeda secara signifikan dibandingkan kondisi hutan rawa gambut.
Perubahan lebih nyata terjadi setelah kelapa sawit ditanam. Pada tiga tahun pertama perkebunan, emisi CO₂ tanah meningkat hingga 2.606–3.119 g C/m²/tahun. Setelah itu, emisi mulai menurun pada tahun keempat dan kelima, masing-masing berada pada kisaran 1.858–2.348 g C/m²/tahun.
BACA JUGA: Stok Sawit Malaysia Tembus 2,63 Juta Ton, Harga CPO Tetap Kokoh Dibayangi Risiko El Niño
Di lokasi penelitian, emisi tertinggi tercatat pada tahun pertama. Site A mencapai 3.119 g C/m²/tahun, sedangkan Site B mencapai 2.738 g C/m²/tahun. Emisi masih relatif tinggi pada tahun kedua dan ketiga sebelum kemudian mengalami penurunan pada tahun keempat dan kelima.
Para peneliti menduga tingginya emisi pada fase awal perkebunan berkaitan dengan meningkatnya respirasi heterotrofik. Aplikasi pupuk dapat merangsang aktivitas mikroba dan penguraian bahan organik tanah, sementara sisa biomassa akar dari vegetasi hutan yang telah dibuka juga dapat menjadi sumber tambahan CO₂.
Meski demikian, penelitian mencatat bahwa sisa material kayu yang ditumpuk di sepanjang jalur tertentu tidak diukur secara langsung. Karena itu, hasil pengukuran terutama merepresentasikan emisi pada zona sekitar tanaman atau palm-circle, bukan keseluruhan area perkebunan.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik pada Jumat (28/8), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Menguat
Muka Air Tanah Sempat Turun
Konversi lahan juga mengubah kondisi hidrologis gambut. Sistem drainase menyebabkan muka air tanah turun dari kondisi yang hampir berada di permukaan saat masih berupa hutan rawa gambut menjadi sekitar 78 sentimeter di bawah permukaan tanah selama tahap persiapan lahan.
Pada tahun pertama setelah penanaman kelapa sawit, muka air tanah bahkan mencapai sekitar 98 cm di bawah permukaan di Site A dan 90 cm di Site B.
Namun, pada tahun kelima, muka air tanah kembali naik sebagian, menjadi sekitar 49 cm di bawah permukaan pada Site A dan 52 cm pada Site B.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 28 Agustus–3 September 2026 Naik Rp47,02 per Kg
Kondisi tersebut berjalan bersamaan dengan perubahan suhu tanah. Suhu tanah meningkat dari sekitar 26°C di hutan rawa gambut menjadi sekitar 29,2°C pada tahun kedua perkebunan, kemudian turun menjadi sekitar 28,2°C pada tahun kelima.
Mengapa Emisi Mulai Menurun?
Penurunan emisi pada tahun keempat dan kelima diduga berkaitan dengan sejumlah perubahan di dalam ekosistem gambut.
Peneliti menemukan peningkatan indeks kelarutan pirofosfat atau pyrophosphate solubility index (PSI), yang menunjukkan semakin berkembangnya proses humifikasi dan meningkatnya proporsi karbon yang lebih sulit terurai atau recalcitrant carbon.
