Penguraian senyawa organik yang lebih mudah terurai secara bertahap dapat meningkatkan proporsi karbon yang lebih resisten. Kondisi tersebut kemudian mengurangi ketersediaan substrat bagi mikroorganisme untuk menghasilkan CO₂ melalui respirasi.
Selain itu, peningkatan pengelolaan muka air dan berkembangnya tajuk kelapa sawit yang memberikan lebih banyak naungan juga diperkirakan ikut berkontribusi terhadap penurunan emisi pada fase tersebut.
Penelitian juga menemukan bahwa selama fase perkebunan, fluks CO₂ memiliki hubungan negatif dengan water-filled pore space (WFPS) dan kepadatan tanah. WFPS yang lebih tinggi dapat membatasi difusi oksigen, sedangkan kepadatan tanah yang meningkat dapat mengurangi porositas dan membatasi penetrasi oksigen ke lapisan gambut permukaan.
BACA JUGA: MPOC: Musim Monsun Berpotensi Redam Dampak Super El Niño terhadap Produksi Sawit Malaysia
Pentingnya Melindungi Hutan Rawa Gambut
Para peneliti menilai penelitian ini merupakan studi pertama yang memantau fluks CO₂ tanah sepanjang seluruh tahapan konversi lahan gambut tropis menjadi perkebunan kelapa sawit pada satu lokasi.
Karena lokasi penelitian sebelumnya merupakan hutan rawa gambut sekunder, peneliti mengingatkan bahwa peningkatan emisi akibat perubahan penggunaan lahan berpotensi lebih besar apabila konversi dilakukan pada hutan rawa gambut primer.
Temuan tersebut, menurut penelitian, memperkuat pentingnya menjaga hutan rawa gambut yang masih tersisa untuk mengurangi kehilangan karbon lebih lanjut.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumbar Periode IV Agustus 2026 Naik Rp108,52 per Kg
Meski emisi menunjukkan kecenderungan menurun setelah tahun keempat, peneliti belum dapat memastikan apakah tren tersebut akan terus berlanjut ketika tanaman semakin matang. Karena itu, diperlukan pemantauan lebih panjang setelah tahun kelima serta pengukuran pada berbagai zona pengelolaan perkebunan untuk memperoleh gambaran emisi pada skala perkebunan secara lebih representatif. (T2)
