InfoSAWIT, JAKARTA – Pengelolaan sumber daya manusia (SDM) di perkebunan kelapa sawit tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman teknis. Masa awal bekerja, khususnya tiga bulan pertama, menjadi periode penting untuk memastikan pemanen mampu beradaptasi, meningkatkan kompetensi, sekaligus membangun keterikatan dengan perusahaan.
Hal tersebut disampaikan Ainol Haqi, Head of Learning & People Dev. Section, People & Organization Development, PT Teladan Prima Agro Tbk., saat berbicara dalam IPS Planter Talks 2026 Series #1 bertajuk “Darurat SDM Sawit”, yang dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Ainol, perhatian kepada pekerja perlu diberikan sejak hari pertama. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan antara pekerja dan perusahaan, terutama bagi tenaga kerja yang baru memasuki lingkungan perkebunan.
BACA JUGA: Transparansi Upah Jadi Kunci Menahan Pemanen Sawit agar Tidak Pindah Perusahaan
Salah satu bentuknya dilakukan melalui program orientasi. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan lingkungan kerja, tetapi juga menjadi sarana membantu pekerja beradaptasi dan memahami ekspektasi perusahaan.
Berdasarkan data yang dipaparkan Ainol, hingga Agustus 2026 terdapat 19 pelaksanaan program dengan total 842 peserta. Dari jumlah tersebut, 91 orang dinyatakan lulus atau dinilai kompeten, sementara 37 peserta masih menjalani proses. Sebanyak 14 orang tercatat mengundurkan diri.
Program orientasi sekaligus dapat menjadi mekanisme untuk mengidentifikasi persoalan adaptasi sejak awal. Ainol menyebut masa 90 hari pertama sebagai titik kritis karena perusahaan perlu memastikan pekerja tidak kehilangan arah sebelum mencapai tingkat produktivitas yang diharapkan.
BACA JUGA: RUU Reforma Agraria Dibahas DPR, Sawit Watch Soroti Perlindungan Buruh dan Konflik Lahan Sawit
Pendampingan karena itu dilakukan secara berkelanjutan, disertai evaluasi selama masa awal bekerja. Jika terdapat kekurangan kompetensi, pekerja diberikan pendampingan untuk mempercepat proses penyesuaian dan peningkatan kemampuan.
Dari sisi produktivitas, Ainol juga memaparkan adanya perkembangan hasil panen peserta selama masa awal bekerja. Dalam tiga bulan pertama, rata-rata produktivitas yang diamati mencapai sekitar 1.200 kilogram, dengan kecenderungan meningkat.
Ia menilai peningkatan tersebut tidak semata-mata dipengaruhi satu faktor. Namun, perhatian perusahaan kepada pemanen sejak awal dapat menjadi salah satu unsur yang ikut membangun motivasi dan produktivitas.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Jambi Periode 18–24 September 2026 Turun Rp36,02 per Kg
Dalam konteks mempertahankan tenaga kerja, faktor pendapatan juga disebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Pemanen dengan masa kerja satu hingga tiga tahun, menurut Ainol, dapat mempertimbangkan peluang lain ketika terdapat perbedaan pendapatan yang menarik di tempat lain.
Karena itu, selain orientasi dan pendampingan, perusahaan juga perlu memikirkan bentuk penghargaan kepada pemanen sebagai bagian dari upaya mempertahankan SDM produktif di perkebunan kelapa sawit. (T2)
