InfoSAWIT, JAKARTA – Dalam dunia industri kelapa sawit yang semakin dituntut untuk hijau dan bertanggung jawab, PT SMART Tbk mengambil pendekatan berbeda—menggabungkan teknologi, kolaborasi lintas generasi, dan bahkan filosofi sederhana seperti pisang goreng.
Dalam sebuah seminar yang diadakan Indonesian Planters Society (IPS) dihadiri InfoSAWIT akhir 2024 lalu, Head of Learning and Development PT SMART Tbk, Dodi Mulyanto, menegaskan bahwa keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Ia menyampaikan bahwa industri sawit Indonesia, sebagai salah satu penghasil terbesar di dunia, harus menunjukkan bahwa praktik agribisnis bisa dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan dan berpihak pada masyarakat.
“Sebagai salah satu produsen terbesar, Indonesia punya tanggung jawab moral dan strategis. Praktik berkelanjutan tidak hanya soal menjaga lingkungan, tapi juga membangun nilai bersama dengan masyarakat sekitar,” ujar Dodi dalam pemaparannya.
BACA JUGA: Lilin Batik Berbasis Sawit, Langkah Baru Menuju Industri Kreatif Berkelanjutan
Lebih lanjut, ia menyinggung peran generasi muda dalam mendorong perubahan. Menurutnya, generasi saat ini lebih kritis terhadap isu sosial dan lingkungan. Mereka tidak hanya ingin bekerja, tapi juga ingin berkontribusi dalam sistem yang etis dan berkelanjutan.
“Kita harus menciptakan lingkungan kerja yang ramah dan mendukung semua karyawan. Fasilitas harus baik, tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalankan praktik yang tidak merusak,” ungkapnya.
Sebagai penulis buku “Menjadi Planters yang Terpercaya”, Dodi juga menekankan bahwa keberlanjutan harus terwujud dari hulu ke hilir. Tantangan seperti pengelolaan limbah dan jejak karbon harus ditangani dengan teknologi dan komitmen yang kuat.
BACA JUGA: Ekspor RI April 2025 Melambat, Tapi Tren Surplus Tak Tergoyahkan
“Ini bukan sekadar patuh pada regulasi, tapi soal membuktikan bahwa kita memang serius menjaga lingkungan. Monitoring dampak produksi dengan teknologi itu penting,” katanya.
Namun, isu lingkungan bukan satu-satunya perhatian. Dalam konteks internal organisasi, Dodi menilai komunikasi dan kolaborasi antargenerasi juga menjadi kunci. Ia mengakui bahwa gaya kerja dan ekspektasi tiap generasi berbeda, dan perusahaan harus mampu menjembatani itu.
