InfoSAWIT, JAKARTA – Cangkang kelapa sawit tidak semestinya hanya dipandang sebagai residu proses pengolahan tandan buah segar (TBS). Dengan pengelolaan dan strategi pemanfaatan yang tepat, produk samping ini berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi pabrik kelapa sawit (PKS).
Pakar pabrik kelapa sawit sekaligus Direktur PT Mitra Agro Servindo, Bonar Saragih, mengungkapkan hal tersebut dalam IPS Planter Talk Series #4 bertajuk “Building a High Extraction, Low Loss and Reliable Palm Oil”, dihadiri InfoSAWIT, Sabtu (24/10/2026). Dalam paparannya, ia menyoroti peluang ekonomi dari pemanfaatan cangkang sawit yang selama ini belum dioptimalkan oleh sebagian pabrik.
Bonar menjelaskan, proses pengolahan TBS menghasilkan sejumlah produk, mulai dari minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), inti sawit (palm kernel), hingga produk samping berupa serat, tandan kosong, dan cangkang.
BACA JUGA: Margin Keuntungan Kedelai Brasil Diproyeksi Meningkat pada 2026/2027, Petani AS Tertekan
Menurut dia, berbagai produk samping tersebut perlu dikelola sebagai bagian dari strategi meningkatkan nilai ekonomi operasional pabrik. Khusus cangkang, peluangnya semakin menarik ketika diposisikan sebagai komoditas yang dapat dipasarkan, bukan sekadar bahan bakar untuk kebutuhan internal.
Ia memperkirakan, dari sekitar 1.500 pabrik kelapa sawit di Indonesia, hanya sebagian kecil yang secara khusus mengembangkan cangkang sebagai komoditas penjualan. Angka tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan dalam forum dan belum disertai data pembanding terverifikasi.
“Cangkang ini salah satu komoditas yang sangat membantu untuk mendapatkan margin,” ujar Bonar dalam paparannya.
BACA JUGA: Karhutla Sumsel Tak Cukup Diatasi dengan Pemadaman, Tata Kelola Gambut Jadi Kunci
Cangkang Sawit Menambah Peluang Pendapatan
Bonar membagikan pengalaman mengenai sebuah pabrik yang dibangun sekitar 2022 dan kemudian memperoleh pendapatan signifikan dari penjualan cangkang. Berdasarkan pengalamannya, akumulasi penjualan produk tersebut disebut telah melampaui Rp100 miliar dalam periode operasional yang dibahasnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa produk samping yang selama ini kerap digunakan sebagai bahan bakar internal dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika tersedia pasar yang mendukung.
Bonar juga menyinggung perbedaan harga cangkang berdasarkan lokasi dan kondisi pasar. Dalam paparannya, ia menyebut kisaran harga sekitar Rp1.000–Rp1.200 per kilogram di sejumlah wilayah Sumatera, sedangkan harga di lokasi lain dapat berbeda, bergantung pada karakteristik pasar dan kebutuhan pembeli.
BACA JUGA: IPS Dorong Pabrik Kelapa Sawit Indonesia Lebih Efisien, Andal, dan Minim Kehilangan Minyak
Meski demikian, keputusan menjual cangkang perlu memperhitungkan kebutuhan energi pabrik. Pasalnya, cangkang juga memiliki fungsi sebagai bahan bakar untuk mendukung operasional fasilitas pengolahan.
Karena itu, pengelola PKS perlu membandingkan pendapatan dari penjualan cangkang dengan biaya energi pengganti, kebutuhan operasional, biaya pengangkutan, serta biaya penanganan material.
Dengan perhitungan tersebut, perusahaan dapat menentukan proporsi cangkang yang layak dijual dan bagian yang tetap dimanfaatkan untuk kebutuhan internal.
BACA JUGA: Malaysia Pertimbangkan Penghapusan Pajak Ekspor CPO, Stok Sawit Tembus 3,5 Juta Ton
Perencanaan Pabrik Perlu Memperhitungkan Nilai Produk Samping
Bonar menilai, optimalisasi cangkang sebaiknya dipertimbangkan sejak tahap perencanaan pembangunan pabrik. Sebab, desain fasilitas, konfigurasi peralatan, serta sistem pemanfaatan energi akan memengaruhi fleksibilitas perusahaan dalam mengelola produk samping.
Sementara bagi pabrik yang sudah beroperasi, peluang optimalisasi tetap terbuka melalui evaluasi sistem pembakaran, penggunaan energi, dan pengelolaan material.
Menurutnya, strategi tersebut harus menjadi bagian dari pendekatan bisnis yang menyeluruh. Peningkatan pendapatan tidak cukup hanya mengandalkan produksi CPO dan inti sawit, tetapi juga memerlukan pengelolaan produk samping yang lebih terukur.
BACA JUGA: Wabup Sekadau Dorong Perusahaan Sawit Revisi HGU untuk Cegah Konflik Lahan
Pada akhirnya, pemanfaatan cangkang sebagai komoditas dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat margin usaha PKS. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi pasar, biaya logistik, kebutuhan energi, serta kemampuan perusahaan mengelola keseluruhan proses produksi secara efisien. (T2)
