InfoSAWIT, JAKARTA – Mempertahankan populasi tanaman menjadi salah satu kunci utama untuk menjaga produktivitas perkebunan kelapa sawit. Praktisi perkebunan kelapa sawit, Djan Muhayat, menekankan bahwa produktivitas tinggi tidak hanya bergantung pada varietas unggul, tetapi juga ditentukan oleh jumlah pokok produktif, pembentukan tandan, bobot tandan, serta pengelolaan tanah untuk menekan serangan penyakit.
Menurut Djan, terdapat tiga komponen utama yang perlu diperhatikan untuk mencapai produktivitas optimal. Pertama, populasi tanaman harus dipertahankan di atas 136 pokok per hektare. Kedua, setiap pokok ditargetkan menghasilkan lebih dari 12 tandan per tahun. Ketiga, bobot janjang rata-rata (BJR) perlu dijaga di atas 15 kilogram.
“Bagaimanapun, populasi tanaman harus dipertahankan. Bagaimana 136 pokok per hektare itu dikelola dengan baik dan laju penurunannya diperlambat selambat mungkin,” ujarnya dilansir InfoSAWIT dari laman media sosial PPKS, Jumat (23/10/2026).
BACA JUGA: MPOC Prediksi Harga CPO Bertahan di Atas RM4.600 per Ton pada November 2026
Ia mengingatkan, penurunan populasi tanaman pada usia muda dapat berdampak terhadap potensi produksi kebun dalam jangka panjang. Karena itu, pengelolaan tanaman perlu dilakukan secara konsisten sejak awal, termasuk melalui pemilihan bahan tanam yang sesuai dengan kondisi lahan dan memiliki toleransi terhadap penyakit.
Pengelolaan Tanah Menjadi Kunci Menghadapi Ganoderma
Djan menjelaskan, pemilihan varietas yang memiliki ketahanan terhadap Ganoderma tidak serta-merta menjamin tanaman terbebas dari serangan penyakit tersebut. Kondisi tanah dan riwayat serangan di lahan turut memengaruhi kemampuan tanaman bertahan.
Ganoderma merupakan patogen penyebab penyakit busuk pangkal batang yang dapat merusak jaringan pangkal batang dan sistem perakaran kelapa sawit. Ketika akar mengalami kerusakan, kemampuan tanaman menyerap air dan unsur hara serta menopang tubuh tanaman ikut menurun. Dalam kondisi tertentu, tanaman yang terserang berat bahkan berisiko tumbang.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Sumut Periode 21–27 Oktober 2026 Naik Rp70,23 per Kg, Umur 10–20 Tahun Rp3.740,41
Ia mencontohkan tanaman yang telah memasuki tahap tanaman menghasilkan (TM) dan mengalami serangan Ganoderma. Kerusakan akar menyebabkan tanaman kehilangan kekuatan penopang, sehingga rentan roboh ketika diterpa angin.
Kondisi tersebut, menurut Djan, menunjukkan bahwa upaya mempertahankan populasi tidak cukup hanya mengandalkan pemilihan varietas. Tindakan kultur teknis dan pengelolaan kesuburan tanah juga harus menjadi bagian dari strategi perlindungan tanaman, termasuk menjaga ketersediaan bahan organik.
Trichoderma dan Strategi Menekan Perkembangan Ganoderma
Selain memperbaiki kondisi tanah, Djan menyoroti pentingnya pemanfaatan mikroorganisme antagonis untuk membantu menekan perkembangan Ganoderma. Salah satu mikroorganisme yang menjadi perhatian adalah Trichoderma, yang dikenal memiliki potensi sebagai agen pengendali hayati terhadap sejumlah patogen tanaman.
Ia menjelaskan, prinsip yang perlu diperhatikan adalah membangun dominasi mikroorganisme antagonis di lingkungan perakaran agar mampu menekan perkembangan patogen.
Sebagai ilustrasi, Djan menggambarkan apabila populasi Ganoderma berada pada tingkat (10^5), maka keberadaan Trichoderma ditargetkan mencapai tingkat (10^6). Perbandingan tersebut digunakan untuk menjelaskan konsep dominasi mikroorganisme antagonis, bukan sebagai dosis aplikasi baku yang berlaku untuk seluruh kondisi kebun.
Penerapan di lapangan tetap perlu mempertimbangkan jenis dan strain mikroorganisme, kondisi tanah, tingkat serangan, serta metode aplikasi yang sesuai. Dengan pengelolaan yang tepat, pendekatan biologis dapat menjadi bagian dari strategi terpadu untuk menekan risiko perkembangan penyakit.
Populasi Tanaman Menentukan Produktivitas Kebun
Djan menegaskan, upaya menjaga produktivitas kelapa sawit harus dimulai dengan melindungi populasi tanaman agar tetap berada pada kondisi optimal. Ia memperkirakan sekitar 70% perhatian terhadap produktivitas perlu diarahkan pada upaya mempertahankan populasi, sedangkan 30% lainnya berkaitan dengan upaya meningkatkan produksi tanaman yang tersisa.
Dengan demikian, pengendalian Ganoderma, pemeliharaan kesuburan tanah, pengelolaan bahan organik, dan penerapan kultur teknis yang tepat perlu berjalan beriringan.
Bagi pengelola perkebunan, mempertahankan sedikitnya 136 pokok per hektare menjadi salah satu sasaran yang perlu diperhatikan, dengan tetap menyesuaikan target tersebut terhadap jarak tanam, standar populasi kebun, dan kondisi aktual tanaman.
BACA JUGA: DPRD Sulbar Telusuri Sengketa Lahan Sawit di Pasangkayu, Lima Perusahaan Disambangi
Pada akhirnya, produktivitas tinggi bukan semata-mata hasil dari penggunaan varietas unggul atau peningkatan produksi per pokok. Kemampuan mempertahankan populasi tanaman sehat hingga usia produktif menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan produksi kelapa sawit dalam jangka panjang. (T2)
