InfoSAWIT, ACEH SINGKIL – Kolaborasi Apical, Inisiatif Dagang Hijau (IDH), dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melalui Program Sustainable Living Village (SLV) di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, telah berjalan lebih dari tiga tahun dengan sejumlah capaian untuk mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian ekosistem.
Program SLV adalah model pembangunan desa berkelanjutan dengan konsep Desa Hidup Lestari dan Desa Bebas Deforestasi. Sejak diluncurkan pada 18 Februari 2023, program ini memadukan pendampingan petani sawit swadaya, pengembangan sumber penghidupan alternatif, restorasi ekosistem, dan penguatan tata kelola lanskap.
“Tujuan dari program ini adalah meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat tanpa memperluas perkebunan ke kawasan hutan,” ujar Corporate Social Responsibility (CSR) Manager Apical Sugiantoro, dalam keterangan resmi diterima InfoSAWIT, Kamis (22/10/2026).
BACA JUGA: DPRD Sulbar Telusuri Sengketa Lahan Sawit di Pasangkayu, Lima Perusahaan Disambangi
Ia menjelaskan bahwa program SLV sejalan dengan komitmen Apical, sebagai inisiator program, untuk meningkatkan kualitas kehidupan melalui pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.
Melalui SLV, Apical berupaya menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus mendukung perlindungan lingkungan. Di Aceh Singkil, upaya ini diwujudkan melalui pendampingan untuk meningkatkan produktivitas kebun, penguatan administrasi usaha perkebunan, dan pengembangan sumber penghasilan alternatif tanpa mendorong perluasan perkebunan ke kawasan hutan.
“Peningkatan kesejahteraan petani harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan masyarakat memiliki kapasitas dan peluang ekonomi yang lebih baik, sekaligus menjaga kelestarian ekosistem Aceh Singkil,” ujarnya.
BACA JUGA: Anomali Iklim Tingkatkan Risiko Karhutla, APHI Tekankan Pentingnya Mitigasi Berbasis Data
SLV merupakan bagian dari Apical2030, peta jalan keberlanjutan Apical yang diluncurkan pada 2022. Melalui pilar Inclusive Progress, Apical berkomitmen mendukung masyarakat melalui 30 Sustainable Living Village hingga 2030. Program ini juga berkontribusi pada upaya Apical mewujudkan komitmen perlindungan dan konservasi 150.000 hektare hutan dan lahan gambut pada 2030 melalui pilar Transformative Partnerships.
Selama lebih dari tiga tahun, Program SLV mencatat berbagai capaian dalam mendorong praktik perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di empat desa di Kecamatan Danau Paris, yaitu Biskang, Sikoran, Napagaluh, dan Situban Makmur.
Hingga Oktober 2026, sebanyak 1.048 petani swadaya di Aceh Singkil telah mengikuti pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dan Best Management Practices (BMP) untuk meningkatkan produktivitas dan pengelolaan kebun berkelanjutan.
Program ini juga telah memfasilitasi penerbitan 930 Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) untuk memperkuat administrasi usaha perkebunan rakyat dan membuka akses ke program dukungan pemerintah.
Selain itu, program ini memfasilitasi pembentukan dua koperasi dan satu kelompok tani serta memberikan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kesiapan menghadapi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
“Penguatan kapasitas petani swadaya serta legalitas lahan yang tertata dengan baik tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung ketertelusuran rantai pasok kelapa sawit yang berkelanjutan,” ujar Country Director IDH Nassat Idris.
BACA JUGA: KLH Dorong Inventarisasi Emisi GRK untuk Perkuat Industri Sawit Rendah Karbon
Ia berharap, melalui kolaborasi multipihak, praktik-praktik berkelanjutan yang telah diperkenalkan dapat terus diterapkan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi petani serta memastikan rantai pasok kelapa sawit yang bebas deforestasi dan inklusif bagi petani swadaya.
Dalam pelaksanaan SLV, IDH mendapat dukungan dari National Initiatives for Sustainable Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS), program yang didukung pemerintah Belanda dan Inggris untuk membangun rantai pasok kelapa sawit yang inklusif, berkelanjutan, dan dapat ditingkatkan skalanya, dengan penekanan pada keterlibatan petani swadaya.
Untuk melengkapi peningkatan produktivitas kebun, SLV juga mendorong diversifikasi pendapatan melalui budi daya madu Trigona. Inisiatif yang melibatkan 61 petani dalam enam kelompok binaan ini membuka peluang usaha tambahan tanpa memerlukan pembukaan lahan baru.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun Pada Rabu (21/10/2026), Perdagangan CPO di Bursa Malaysia Melemah
“Kami memperoleh 250 stup madu dan pengetahuan baru dalam mengelola kebun dan mengembangkan usaha tambahan. Pendampingan yang diberikan membantu kami meningkatkan penghasilan keluarga sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan untuk masa depan,” ujar Abdulrahman, perwakilan Kelompok Tani Teluk Rumbia, penerima manfaat Program SLV.
Di sisi lingkungan, program ini menjalankan restorasi, penanaman kembali vegetasi, penelitian, dan pemantauan ekosistem. Upaya ini diarahkan untuk menjaga fungsi ekologis bentang alam Aceh Singkil, termasuk kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil.
Iwan Ikhtiara, Project Leader YEL, menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam pembangunan desa yang selaras dengan perlindungan ekosistem.
